Jumat, 17 September 2010

Jaga Bumi Kita!

وَعَنْ أبي هريرةَ  قال: قَـــرَأَ رَسُــوْلُ اللهِ J:
﴿ يَوْمَئِــدٍ تُحَـدِّثُ أَخْبَارَهَا, ثُمَّ قَالَ: اَتَـدْرُوْنَ مَا أَخْبَارُهَا؟ قَالُوْا: اللهُ وَرَسُــوْلُهُ أَعْلَـمُ، قَالَ: فَإِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْـهَدَ عَلىَ كُلِّ عَـبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلىَ ظَهْرِهَا، تَقُوْلُ: عَمِلْـتَ كَذَا فِى يَوْمِ كَذَا وَكَذَا، فَهَذِهِ أَخْبَارُهَا ﴾
Dari sahabat Abu Hurairah r.hu, dia bercerita, Rasulullah saw bersabda,

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” Lebih lanjut, beliau berkata, “Tahukah kalian, apakah berita yang disampaikan bumi itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau saw bersabda, “Sesungguhnya berita bumi itu adalah ia menjadi saksi terhadap setiap hamba, baik lelaki maupun perempuan atas segala yang mereka lakukan di atasnya. Bumi itu mengatakan, “Kamu melakukan ini dan itu pada hari ini dan itu.” Demikian itulah berita yang disampaikannya” (Hr.Tirmidzi. Menurutnya hadis ini adalah hadis hasan).

Kedudukan hadis
Hadis ini derajatnya adalah hasan li-ghairih. Diriwayatkan Imam Tirmidzi r.hu dalam Sunan-nya, hadis nomor 3353. Imam Ahmad r.hu dalam Musnad-nya, Juz II, hal.34. Juga yang lain-lainnya melalui jalur Sa’id bin Ayyub, dari Yahya bin Abi Sulaiman, dari Sa’id al-Maqburi r.hum.
Imam Baihaqi r.hu dalam Syu’abul Iman mencatatnya dalam nomor hadis 7296 dan 2797. Juga terdapat dalam Musnad Anas.
Sanad hadis ini lemah. Karena di dalamnya terdapat Yahya bin Abi Sulaiman, dia dikenal seorang yang lemah dalam hadis.
Namun begitu, hadis ini dikuatkan oleh terdapatnya satu syahid dari hadis Rabi’ah al-Jurasyi yang dikeluarkan oleh Imam Thabrani r.hu. Seperti tercantum dalam al-Kabir, hadis nomor 4596. Di dalam sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah. Dia seorang yang lemah. Tetapi dengan adanya syahid tersebut. Maka, derajat hadis menjadi meningkat. Yakni, hasan li-ghairih. Dan, dapat digunakan sebagai dalil (hujjah).

Kunci Kalimat (Miftāhul Kalām)
﴿ فَإِنَّ أَخْبَارَهَا أَنْ تَشْـهَدَ عَلىَ كُلِّ عَـبْدٍ أَوْ أَمَةٍ بِمَا عَمِلَ عَلىَ ظَهْرِهَا ﴾
“Sesungguhnya berita bumi itu adalah ia menjadi saksi terhadap setiap hamba, baik lelaki maupun perempuan atas segala yang mereka lakukan di atasnya”

Pada saat yang telah ditetapkan oleh Allah azza wa jalla. Bumi akan mengeluarkan warta informasi mengenai kesaksian, yang selama ini dicatat. Segenap hal ihwal mengenai polah-tingkah umat manusia, semua terekam di dalam kesaksian yang pasti benar adanya. Dalam sabda yang lain, beliau saw juga memerintahkan umat Islam untuk menjaga bumi. Sehingga bumi tetap berkedudukan sebagai saksi penting dalam mencatat detailisasi dari setiap amal perbuatan umat manusia yang berada di atasnya.
اِسْتَــقِيْمُواْ, وَنِـعِمَّا إِنِ اسْتَـقَمْـتُمْ, وَحَافِــظُواْ عَلىَ الْوُضُـوءِ, فَإِنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةِ, وَتَحْـفَظُوْا مِنَ اْلأَرْضِ فَإِنَّهَا أُمُّـكُمْ، وَإِنَّهُ لَـيْسَ أَحَدٌ عَامِلٌ عَلَـيْهَا خَيْراً أَوْ شَـراً إِلاَّ وَهِيَ مُخْـبِرَةٌ بِهِ
“Istiqamalah kalian! Alangkah nikmatnya istiqamah itu. Jagalah wudlu kalian! Karena amal kalian yang terbaik adalah shalat. Dan, jaga bumi ini! Karena ia adalah ibu kalian. Bumi ini pasti mengabarkan baik dan buruknya perbuatan setiap orang terhadapnya” (Hr.Thabrani. Kitab Majjarur Rabih, hal.33, nomor hadis 76. Hadis ini diriwayatkan dalam Majma’ul Zawa`id wa Manba’ul Fawa`id, bab Fîman Kāna ‘Ala Thahãrati wa Syakki, Juz I, hal.150. Dalam Kanzul Umal, Juz XV, hal.869. Dalam al-Kabîr, Juz I, hal.241. Dalam Ma’rifatush Shahabah, Ibnu Nu’aim, bab Man Ismuhu Rabi’ah. Abu Hatim berpendapat, “Rabi’ah tidak pernah bertemu dengan Rasulullah saw. Yang lain berpendapat, pernah bertemu dengan Rasulullah saw; wa-llãhu a’lam.”).

Dalam hadis ini, nyata-nyata Rasulullah saw memerintahkan kaum muslimin-mukmin supaya menjaga bumi. Secara khusus Rasulullah saw menyejajarkan perintah menjaga bumi dengan menjaga wudlu. Perintah menjaga wudlu, sebagai wujud peningkatan Kecerdasan Tauhid. Adapun, perintah menjaga bumi, sebagai wujud peningkatan Kecerdasan Sosial.
Ingat, di bumi kita, Rasulullah saw telah diberi dua khazanah yang agung. Yakni, warna merah dan putih (baca buku alfaqir yang berjudul “Membaca Perubahan Jaman”).
Bumi harus dijaga! Sikap eksploitasi dan memperkosa bumi. Sungguh merupakan perbuatan tidak terpuji. Merusak bumi sangat bertentangan dengan perintah Allah swt. Di mana umat manusia harus memakmurkan bumi. Sebagaimana telah dinyatakan-Nya,

“Dan, janganlah kamu berbuat kerusakan di [muka] bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Qs.al-Qashash [28]: 77).

Perintah yang terkandung dalam ayat ini. Seorang manusia harus memiliki keserasian hidup. Tanpa kehidupan yang serasi. Kehidupan seorang manusia. Bahkan, umat manusia dapat hancur berantakan.
Lafadz “ibu kalian”. Yang dialamatkan kepada bumi. Merupakan bentuk ungkapan. Betapa bumi banyak “melahirkan” apa-apa yang selama ini telah dikandungnya. Mulai barang tambang, air, tumbuhan, bebatuan, tanah, dan hewan.
Manusia seringkali melakukan “operasi sesar” ke dalam perut bumi. Memaksa guna mengambil apa-apa yang dikandungnya. Yang menguntungkan hawa nafsunya. Manusia serakah bukanlah khalifah. Ia lebih dekat dengan perangai iblis dan setan .
Seorang khalifah harus melakukan: penjagaan, pemeliharaan, perlindungan, pengembangan, dan pelayanan terhadap yang dikhalifahi. Termasuk terhadap bumi. Sebab, manusia banyak “berhutang budi” dengan bumi. Yang selama ini disediakan Allah swt buat kehidupan umat manusia. Hingga Hari Kiamat datang.
Rusaknya bumi lebih dikarenakan orang-orang yang berperangai nifak, memegang kebijaksanaan. Sampai kapan pun seorang yang fasik tidak akan pernah dapat berperilaku bijak. Yang ada justru, “Musang berbulu domba”.
Alfaqir yakin bumi kita sekarang ini sudah dalam keadaan “sekarat” (krisis akut). Saatnya kaum mukminin menegakkan jihad mengembalikan keserasian bumi. Belum terlambat!
Mari hutan ditanam kembali. Sungai-sungai dijaga kebersihannya. Pantai-pantai dijaga hutan bakaunya. Trumbu karang disemai kembali. Hindari pemakaian pupuk un-organik! Ayo tanam kembali tanam-tanaman yang bermanfaat. Segera miliki hobby bercocok tanam.
Kembalilah minum air putih. Tinggalkan soft drink. Gemarlah makan sayur dan buah. Tinggalkan makanan instan dan junkfood (termasuk fitcin). Kelola tanah pertanian dengan mengikuti pranoto mongso yang telah ditetapkan Allah azza wa jalla.
Ayo kelola bumi dengan menggunakan: Alam Bawah Sadar (albasa) dan Akal Budi. Dan, harus berani memaksa Akal Sehat mengikuti Albasa dan Akal Budi. Baru itu dikatakan memakmurkan bumi.

Pemahaman Hadis
1. (أخـــبارها) akhbāra-hā. Artinya, infomasinya.
Kata ganti hā ini, menunjuk kepada bumi. Rasulullah saw mengutip salah satu ayat dari surat al-zalzalah ayat ke-4,


“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan [yang dahsyat]1 Dan, bumi telah mengeluarkan beban-beban berat [yang dikandung]-nya2 Dan, manusia bertanya, “Mengapa bumi [menjadi begini]?3” Pada hari itu bumi menceritakan beritanya4 Karena sesungguhnya Rabb-mu telah memerintahkan [yang sedemikian itu] kepadanya5” (Qs.al-Zalzalah [99]: 1-5).

2. (أعــــلم) a’lam. Artinya, yang lebih mengetahui.
Mengenai masalah yang ghaib dan urusan agama, hanya Allah dan rasul-Nya yang paling mengetahui.
Warta informasi yang disampaikan bumi. Termasuk urusan ghaib. Karenanya, para sahabat menyerahkan sepenuhnya kepada Rasulullah saw dan Allah sendiri. Mengenai kesaksian bumi atas segenap amal perbuatan umat manusia.

3. (تـــشهد) tasyhada. Artinya, bumi menjadi saksi.
Bumi menjadi saksi dari setiap amal perbuatan umat manusia. Segenap apa yang dilakukan oleh seorang manusia, baik lelaki maupun perempuan, bumi telah melakukan pencatatan yang akurat. Demikianlah yang diperintahkan Allah swt kepada bumi.
Betapa bahagia seorang manusia yang selalu berbuat baik. Sebab, ia akan disaksikan oleh bumi, sebagai seorang yang berbuat baik. Pun pula dengan yang sebaliknya.
Itulah sebabnya, menjadi seorang manusia tidak usah berperilaku buruk. Karena merugikan diri sendiri. Juga tidak usah mendoakan buruk kepada manusia lain. Sebab, apa-apa yang diperbuat oleh manusia telah disaksikan oleh bumi.

4. (ظهـــرها) dhahri-hā. Artinya, dipunggung bumi.
Maksudnya, dipermukaan bumi mana pun. Gerak-gerik setiap manusia selalu disaksikan oleh bumi. Tidak ada ruang sekecil apa pun buat umat manusia untuk bersembunyi. Di dunia ini tidak hanya bumi yang menjadi saksi. Tetapi juga ada malaikat, kedua kaki, dan benda-benda lain yang diperkenan Allah azza wa jalla untuk menjadi saksi atas setiap perbuatan umat manusia.
Jangan rusak bumi! Sebaliknya, bumi kita harus dijaga dan dilestarikan. Sehingga kelak tidak termasuk yang disumpah-serapahi oleh anak cucu kita. Gara-gara kita menjadi leluhur yang telah merusak bumi.

5. (عمــلت كذا في يوم كذا وكذا) ‘amil-ta kadzā fī yawmi kadzā wa kadzā. Artinya, kamu telah berbuat ini-itu pada hari ini dan itu.
Inilah bentuk persaksian bumi kepada umat manusia. Di mana setiap manusia akan mengalami hal itu. Bahwa, tidak ada ruang sekecil apa pun yang terlewatkan dalam persaksian tersebut.
Sebagai manusia muttaqin. Sudah seharusnya menjaga diri dan perilaku, agar selalu berbuat baik dan mendapatkan ridla-Nya. Dan, yang terpenting, tidak merusak bumi. Sebaliknya, menjaga bumi dengan berupaya melakukan pelestarian lingkungan hidup. Sehingga bumi terhindar dari segenap hal yang dapat menjadikannya rusak.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Anda harus commitment and consistent (CC) dalam menjaga bumi.
2. Anda harus segera mempunyai mindSET, sebagai pelestari bumi.
3. Miliki mindSET untuk selalu berbuat baik.

Oase Pencerahan
Dengan sekuat tenaga bumi harus dimakmurkan dan tetap dijaga kelestariannya. Seorang mukmin harus berbeda dengan orang kafir, orang munafik, dan orang fasik. Mereka semua senang melakukan kerusakan bumi. Di antaranya dengan melakukan eksploitasi secara membabi-buta. Semata memenuhi kehendak hawa nafsu dan ketamakan sesaat.
Penambangan yang bersifat eksploitatif. Harus dihentikan. Menghentikan perusakan lingkungan, adalah bentuk jihad yang lain. Prinsipnya, lingkungan hidup tidak boleh dirusak. Mulai dari: air, udara, tanah, tumbuh-tumbuhan, dan hewan yang ada di dalamnya. Umat Islam harus dapat mengontrol dirinya untuk tidak melakukan perusakan.
Percuma keberadaan undang-undang dan aturan dibuat. Jika orang-orang yang ada, khususnya yang mengawal undang-undang dan aturan itu tidak lebih dahulu melakukan Revolusi Diri. Justru yang terjadi malah, “Pagar makan tanaman”.
Silahkan pembangunan nasional berjalan terus. Tetapi tidak dibenarkan mengorbankan lingkungan hidup atas nama pembangunan nasional. Model-model pembangunan yang telah diprakarsai rezim orde baru. Saatnya dihentikan. Sekarang yang harus dikampayekan dan dicontohkan (dipraktekkan), adalah pembangunan ramah lingkungan.
Sekuat tenaga membangun yang tidak lagi merusak: hutan, sungai, laut, gunung, udara, hewan, dan tumbuh-tumbuhan.
Sebelum membangun harus benar-benar berpikir matang. Istikharah dan musyarah sebelum membangun. Jangan turuti nafsu serakah dan tamak yang ada di dalam diri Anda!
Dan, sudah saatnya para ulama, muballigh, ustadz, wartawan, trainer, pejabat, politisi, dan segenap masyarakat negeri ini; secara sadar harus memberikan keteladanan dalam menjaga bumi

Akikah, Hukumnya Sunnah Mu`akkadah

عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ عَنْ النَّـــــــبِيِّ J قَالَ:
﴿ كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَـهَنٌ بِعَـقِيقَـتِهِ تُذْبَحُ عَـنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُـهُ وَيُسَـمَّى ﴾
Dari sahabat al-Hasan r.hu, dari Samurah r.hu, dari Rasulullah saw, telah bersabda,

“Setiap anak yang lahir itu tergadai dengan aqikah-nya, disembelihkan hewan pada hari ke tujuh, dipotong rambutnya, dan diberi nama.”

Kedudukan hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat al-Hasan r.hu dari sahabat Samurah r.hu. Terdapat dalam Sunan Ibnu Majah, bab al-Aqīqah, Juz IX, hal.335, hadis nomor 3156. Dalam Musnad Ahmad, bab Hadis Samurah bin Jundab, Juz XLI, hal.157, hadis nomor 19327 dan hal.160, hadis nomor 19330. Dalam al-Mu’jamul Kabīr lith-Thabrāni, bab II, Juz VI, hal.339, hadis nomor 6686 dan hal.367, hadis nomor 6793. Dan, pada Subulus Salām, bab Irtihanul Ghulam bi Aqīqatihi, Juz VI, hal.331-332, hadis nomor 1276.

Kunci Kalimat (Miftāhul Kalām)
﴿ كُلُّ غُلاَمٍ مُرْتَـهَنٌ بِعَـقِيقَـتِهِ ﴾
“Setiap anak yang lahir itu tergadai dengan aqikah-nya”

Seorang anak manusia adalah amanah --titipan yang harus dijaga-- oleh kedua orang tuanya. Karena anak itu amanah dari Allah swt. Maka, cara memelihara, mendidik, merawat, dan menjaga juga harus sesuai dengan arahan Allah dan rasul-Nya. Tidak mengikuti model pendidikan Allah dan rasul-Nya. Pasti seorang anak tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang jauh dari Allah dan rasul-Nya.
Akikah adalah salah satu media pendidikan dan sarana yang efektif buat kaum muslimin mukmin, guna melakukan Pembelajaran Sifat (Character Learning). Di mana bayi yang baru lahir sudah di-Character Learning-kan dengan melakukan penyembelihan hewan akikah.
Akikah merupakan hak anak yang baru lahir. Dan, merupakan kewajiban bagi orang tuanya. Akan tetapi, boleh hukumnya, memberikan hadiah senilai kambing akikah untuk saudara sesama muslim yang saat akikah tidak memiliki dana buat akikah. Sebab, menolong saudara sesama muslim, agar dapat menunaikan ibadah kepada Allah swt, hukumnya adalah wajib. Sementara, akikah dapat dianalogikan (qias) dengan amal ibadah kepada Allah swt.
Rasulullah saw sendiri pernah meng-akikah-i kedua cucu beliau; Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husen. Begitu seterusnya, hingga ajaran akikah itu sampai kepada kita.
Para ulama berbeda pendapat mengenai akikah. Madzab adz-Dzahiri berpendapat, akikah hukumnya wajib. Jumhur ulama berpendapat, sunnah. Imam Abu Hanifah r.hu berpendapat, tidak wajib dan tidak sunnah, melainkan boleh (ibahah).
Selain itu ada kelompok yang menggunakan qias. Meng-qias-kan akikah dengan ibadah. Dan, mengambil keputusan, akikah dengan sapi dan onta, lebih utama daripada dengan kambing. Karena akikah sebagai ibadah. Maka, harus dilakukan juga dengan cara yang lebih utama. Namun berdasarkan qias akikah dengan ibadah ini. Maka, menyembelih kambing itu lebih utama dari pada sapi dan onta. Dan lebih baik dari sedekah dengan harta yang seharga dengan binatang akikah itu; wa-llāhu a’lam.
Imam Ahmad r.hu berkata, “Mengenai hadis di atas yang diadakannya akikah untuk anak. Yaitu, tergadai dari syafaat untuk kedua orang tuanya.”
Imam Ibnul Qayyim r.hu berkomentar, “Akikah adalah penyebab yang menjadikan anak bagus kepribadian dan akhlaknya, jika dilakukan akikah atas namanya.”
Dr.Sayyid Sabiq r.hu berkata, “Hukumnya adalah sunnah mu’akadah. Yaitu, sunnah yang sangat dianjurkan oleh ajaran Islam.”
Syarat hewan akikah sama persis dengan syarat hewan kurban. Yang berbeda, apabila yang di-akikah-i bayi lelaki, disembelihkan 2 hewan kambing. Adapun untuk bayi perempuan, seekor kambing. Dasarnya, hadis Ummu Kurzin al-Ka’biah r.ha,
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ J يَقُولُ عَنِ الْغُـلَامِ شَاتَانِ مُكَافِــئَــتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَـــةِ شَاةٌ
“Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Seorang anak lelaki dua ekor kambing yang mirip [umur dan penampilannya] dan seorang anak perempuan seekor kambing” (Hr.Ahmad dan Tirmidzi. Hadis ini shahih. Diriwayatkan dari Ibunda A`isyah r.ha).

Pemahaman Hadis
1. (كل غـلام) kullu ghulāmin (setiap anak yang lahir).
Setiap anak manusia yang lahir ke dunia dalam keadaan fitrah (suci). Anak yang terlahir ke dunia dari rahim seorang ibu masih dalam keadaan tergadai di sisi Allah swt. Sebelum si anak ditebus. Selamanya anak masih dalam posisi tergadai di sisi-Nya. Banyak hal dampak dari seseorang yang belum tertebus. Cara menebus yang masih tergadai itu dengan jalan meng-akikah-inya.
Akikah merupakan jastifikasi dari budaya Arab jahiliah. Apabila mendapatkan kelahiran bayi. Langsung dilakukan upacara korban dengan menyembelih hewan. Di mana darah hewan itu dilumurkan di atas kepala si bayi.
Lalu, dengan dinul Islam dijastifikasi dengan cara: Menyembelih hewan akikah; Mencukur (memotong) rambut bayi; dan Memberikan nama yang bagus (mengandung makna penghambaan).

2. (مــرتهـن) murtahanun (tergadai/tertahan).
Murtahanun berasal dari marhūnun (مرهون). Artinya, yang tergadai. Asalnya rahnun (رهن), jamak (plural)-nya ruhūnun (رهون) atau rihānun (رهان). Artinya, barang gadaian.
Bayi yang terlahir ke dunia semua dalam keadaan tergadai. Dan, menebusnya dengan menyembelih kambing (al-aqīqah). Sesuai dengan bayinya. Jika bayinya lelaki, menyembelih 2 kambing. Apabila bayi perempuan seekor kambing.

3. (بـعـقيــقته) bi ‘aqīqatihi (dengan me-akikah-inya).
al-Aqīqah (العــقيـقة). Artinya, kambing yang disembelih. Makna istilah, kambing yang disembelih untuk seorang bayi yang baru lahir, guna menebus dari posisi ketergadaian di sisi Allah swt.
Pelaksanaan akikah 7 hari dari hari kelahiran. Jika tidak mampu saat itu, karena kondisi finansial yang tidak mampu. Boleh hari berikutnya. Begitu seterusnya, sampai benar-benar mampu melakukan akikah. Dasarnya, hadis dari sahabat Anas bin Malik r.hu, bahwasannya Nabi saw meng-akikah-kan dirinya setelah diangkat menjadi Nabi [setelah umur 40 tahun].

4. (يــحلق رأسـه) yuhlaqu ra`suhu (memotong rambut kepalanya).
Pemotongan rambut bayi merupakan salah satu ritual penyerta dari akikah. Ulama berpendapat, “Akikah dilaksanakan pada hari ke-7. Dilanjutkan mencukur rambutnya dan memberi nama yang baik. Juga, menambahkan dengan bersedekah perak sesuai berat rambut anak yang terpotong. Dasarnya, sebuah hadis yang berbunyi, “Bahwa, Fatimah puteri Rasulullah saw mencukur rambut puteranya Hasan, Zainab, dan Ummi Kultsum, serta ia bersedekah dengan perak seberat [rambut] itu” (Hr.Malik).”

5. (يــحلق رأسـه) yusammā (memberinya nama).
Barangsiapa yang memberi nama anaknya pada hari lahirnya, hal itu tidak apa-apa. Bahkan, yang demikian itu menurut sebagian ulama lebih kuat dalilnya daripada dilakukan pada hari ke-7; wa-llāhu a’lam.
Disunnahkan memberi nama yang bagus. Rasulullah saw mencintai nama yang bagus. Diharamkan memberikan nama anak yang menghamba selain Allah. Atau, yang tidak disuaki oleh Rasulullah saw, seperti; Abdul-ka’bah, Abdun-nabi, Abdul-ali, Abdul-husain, dll. Lihat buku alfaqir yang berjudul Adab Keseharian Muslim.
Imam Ibnu Hazm r.hu berkata, “Mereka sepakat memberikan setiap nama yang menunjukkan penghambaan kepada Allah swt.”
Di-makruh-kan memberikan nama yang tidak layak. Nabi saw bersabda,
إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمُ
“Sesungguhnya kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan dengan nama-nama bapak-bapak kalian. Maka, baguskanlah nama-nama kalian” (Hr.Abu Dawud).

Nabi saw juga membenci nama-nama yang buruk, baik nama orang maupun nama tempat. Beliau saw bersabda,
إِنَّ أَحَبَّ أَسْمَائِكُمْ إِلَى الله: عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ
“Sesungguhnya nama kalian yang paling dicintai oleh Allah adalah: Abdullah dan Abdurrahman.”

Memperhatikan perkara memberikan nama yang bagus untuk anak yang baru dilahirkan, dan menjahui nama yang buruk; adalah hak seorang anak atas orang tuanya. Dengan kata lain, kewajiban orang tua memberikan nama anak yang mendatangkan ridla di sisi Allah dan buat Rasulullah saw.

Pembelajaran Sifat (Character Learning)
Sekaranglah saatnya masyarakat melaksanakan dengan sekemampuan untuk meng-akikah-kan anak yang baru dilahirkan. Karena hal itu merupakan sunnah mu`akkadah.
Juga melakukan beberapa perbuatan baik pada saat-saat anak baru lahir. Seperti: Meng-adzan-kan di telinga kanan dan meng-iqamah-kan di telinga kiri. Dasarnya, sebuah hadis, dari Sayyidina Husen bin Ali (cucu Nabi saw), ia berkata, Rasulullah saw bersabda,

“Barangsiapa yang dilahirkan anak untuknya. Kemudian, ia adzan pada telinganya yang kanan dan iqamat pada telinganya yang kiri, niscaya selamatlah anak itu dari jin dan penyakit” (Hadis ini ditakhrij oleh Ibnu Suni r.hu).

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Miliki mindSET untuk mengamalkan segenap sunnah Rasulullah saw. Disamping terus memohon pertolongan kepada Allah azza wa jalla untuk itu.
2. Tanamkan pada alam bawah sadar (albasa) Anda. Setiap kelahiran anak Anda selalu dapat meng-akikah-inya.
3. Berikan nama kepada putera-puteri Anda yang mendatang ridla di sisi Allah swt. Juga, mendatang ridla buat Rasulullah saw.
4. Semaikan nilai-nilai tauhid kepada: Akal sehat; Albasa; dan Akal budi Anda.
5. Jalankan ajaran akikah dengan akal budi Anda.

Oase Pencerahan
Dinul Islam dengan segenap aturan main dan ketetapan yang ada. Adalah, sarana seorang hamba Allah untuk melakukan metamorfosa. Dari ulat menjadi kepompong. Lalu, berubah menjadi kupu-kupu. Tanpa berpandu dengan ajaran Islam. Seorang manusia tidak akan pernah mampu melakukan metamorfosa. Alias gagal metamorfosa. “Ulat” tidak akan pernah menjadi “kupu-kupu”.
Putera-puteri Anda sangat membutuhkan perhatian. Mereka akan tumbuh sesuai dengan apa-apa yang dibiasakan bagi dirinya. Seperti dikatakan seorang penyair,
وَيَنْشَأُ نَاشِيءُ الْفِتْيَانِ فِيْنَا  عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوْهُ
Dan tumbuhlah pemuda kita  Pada apa yang dibiasakan oleh ayahnya.

Akan menjadi sulit pengaturan ketika anak tumbuh menjadi dewasa. Mereka berakhlak buruk. Karena pendidikan yang mereka anut salah.
Rumah tangga Anda harus menjadi pangkal pertumbuhan anak, dan sekolah yang pertama. Anda wajib menjauhkan sarana-sarana kejahatan dan kerusakan. Yang menjadikan rumah Anda tercerabut rahmat-Nya.
Kata kuncinya, sebagai orang tua merupakan teladan buat putera-puteri Anda. Dan, Anda harus berani berkurban, guna memfasilitasi putera-puteri Anda menjadi seorang yang alim lagi allamah dan amil lagi amanah

Siwak Dan Kesehatan

وَقَالَتْ عَائِــــشَةُ  عَنْ النَّـــــــبِيِّ J:
﴿ السِّـوَاكُ مَطْـهَرَةٌ لِلْـفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ ﴾
Dari Ibunda A`isyah r.ha berkata, “Dari Rasulullah saw,

“Siwak itu menyehatkan mulut dan merupakan kesukaan [Allah] Mahapencipta” (Hr.Bukhari).

Kedudukan Hadis
Derajat hadis ini adalah shahih. Imam Bukhari r.hu meriwayatkan dalam Shahih-nya, bab Siwāk, Juz VII, halaman 18. Imam Nasa`i r.hu meriwayatkan dalam Sunan-nya, Juz I, halaman 19, hadis nomor 5.
Sedangkan, Imam Ahmad mencatat dalam Musnad-nya, Juz I, halaman 10, hadis nomor 7. Dalam Jam'us Shaghir, hadis nomor 6009, Juz XIII, halaman 631. Pada Shahih Targhib wa Tarhib, hadis nomor 209, Juz I, halaman 50.

Kunci Kalimat (Miftāhul Kalām)
﴿ السِّـوَاكُ مَطْـهَرَةٌ لِلْـفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ ﴾
“Siwak itu menyehatkan mulut dan merupakan kesukaan [Allah] Mahapencipta”

Segenap sunnah Rasulullah saw memiliki banyak kandungan hikmah yang sungguh luar biasa, dan banyak sekali manfaatnya. Di antara sunnah fi’liah itu adalah menggunakan batang siwak untuk ber-sugi.
Memang sunnah Rasulullah saw banyak ragam. Mulai dari sunnah qauliah, sunnah fi’liah, sunnah taqririah, dan sunnah azzamiah. Sedangkan, menggunakan siwak dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk sunnah fi’liah sekaligus sunnah qauliah. Artinya, Nabi saw dalam kehidupan sehari-hari benar-benar menggunakan batang siwak untuk ber-sugi. Kapan pun dan di mana pun, setiap saat beliau menggunakan batang siwak beliau untuk ber-sugi. Awal bangun tidur pun, beliau saw langsung menggunakan batang siwak beliau.
Allah azza wa jalla mencintai bau mulut seorang muslim mukmin yang harum. Juga, dengan para malaikat-Nya. Sungguh mencintai bau mulut para pembaca al-qur`an yang harum. Batang siwak merupakan alat yang tepat, guna mendapatkan bau harum mulut. Banyak zat yang dikandung batang siwak, tidak saja menjadikan bau mulut harum. Tetapi, juga menjadikan keserasian kesehatan gigi dan mulut.
Betapa pentingnya siwak bagi Rasulullah saw. Sehingga, seolah-olah diwajibkan secara syara`. Hal ini diapresiasi beliau saw dalam hadis dengan sabdanya,
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَفَرَضْتُ عَلَيُهِمْ السِّوَاكَ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ كَمَا فَرَضْتُ عَلَيْهِمْ الْوُضُوْءَ
"Kalau saja tidak memberatkan umatku. Akan aku wajibkan atas mereka bersiwak setiap akan shalat. Sebagimana aku wajibkan atas mereka berwudlu [sebelum shalat]” (Hr.Ahmad).

Pemahaman Hadis
(الســـواك) as-siwāk. Artinya, batang siwak.
Siwak adalah semua benda (tanaman) yang digunakan untuk menyikat gigi --ada yang mengatakan, “Akar pohon pandan padang pasir.” Ujudnya seperti semak belukar, namun kaya dengan sebutan. Di Arab dikenal dengan nama arak (ayurak). Di Persia, sebutannya menjadi darakht-i-miswak (darakht-i-shori). Di tepi Teluk Persia dinamai chuch.
Orang India menyebutnya pilu (jhal). Orang Tamil menyebutnya ooghai-puttai. Ahli botani menamainya tooth-brush tree (pohon sikat gigi). Sedangkan para penulis Eropa menganggapnya sebagai mustard tree of scripture (tanaman obat di dalam Injil).
Secara geografis, habitatnya terbentang luas. Mulai dari Afrika Tengah, Abesinia, Mesir, Tanzania, Senegal, Sudan hingga sepanjang pantai Arab, Persia, India dan Sri Lanka. Sebagai tanaman yang selalu hijau (evergreen). Pohon siwak mampu tumbuh di setiap tempat mulai dari tanah kering, gurun, daerah pantai, dan di tanah-tanah yang sangat asin.
Jenisnya ada dua, khususnya yang berkhasiat untuk obat gigi, yakni: salvadora persica dan s.oleoides.
Siwak memang tanaman istimewa. Ia dihargai tinggi oleh Nabi Muhammad saw. Seperti tersurat pada sejumlah hadis beliau.
(مــطهـرة للــفم) math-harratul lilfami. Artinya, membersihkan mulut.
Maksudnya, siwak berfungsi membersihkan mulut. Para peneliti menemukan, ternyata siwak mempunyai komposisi kimia yang sangat kompleks.
Senyawa inilah yang kerjanya sinergis. Sehingga memberikan efek terapi yang baik pada gigi dan sejumlah pengobatan.
Beberapa di antara yang sudah diketahui adalah trimetilamin (TMA). Zat ini mudah larut dalam air, dan berfungsi sebagai zat apung (floatation agent). Sehingga mampu mencegah endapan (deposit) partikel dan sisa makanan di rongga mulut. Khususnya, ruang antara gigi. Selain itu, juga potensial sebagai anti-bakteri.
Yang kedua adalah salvadorine. Nama ini diberikan oleh ahli botani William Dymock. Sejenis zat alkaloid yang terdapat pada kulit akar yang sudah dikeringkan. Fungsinya belum diketahui dengan pasti.
Selanjutnya, klorida yang terkait dengan pembasmi bakteri. Fluorid untuk mencegah karies (zat ini sering ditambahkan pada pasta gigi komersial saat, red).
Juga, mengandung silika yang dapat memutihkan gigi, dan sulfur untuk melenyapkan plak gigi. Seperti yang pernah dilakukan oleh Hippocrates. Terdapat pula vitamin C. Yang khasiatnya untuk mengobati sariawan dan resin untuk melindungi email gigi.
Siwak memiliki kandungan kimiawi yang bermanfaat, seperti :
- Antibacterial acids, seperti: astringents, abrasive, dan detergents. Berfungsi membunuh bakteri, mencegah infeksi, dan menghentikan pendarahan pada gusi. Penggunaan siwak pertama kali, mungkin terasa pedas dan sedikit membakar, karena terdapat kandungan serupa mustard di dalamnya yang merupakan substansi antibacterial acids tersebut.
- Kandungan kimia, seperti: klorida, pottasium, sodium bicarbonate, fluoride, silika, sulfur, vitamin C, trimethylamine, salvadorine, tannins, dan beberapa mineral lain yang berfungsi untuk membersihkan, memutihkan, dan menyehatkan gigi serta gusi. Bahan-bahan ini sering diekstrak sebagai bahan penyusun pasta gigi.
- Minyak aroma alami yang memiliki rasa dan bau yang segar. Menjadikan mulut menjadi harum dan menghilangkan bau tak sedap.
- Enzim. Yang mencegah pembentukan plaque yang menyebabkan radang gusi. Plaque juga merupakan penyebab utama tanggalnya gigi secara premature.
- Anti decay agent (zat anti pembusukan). Menurunkan jumlah bakteri di mulut dan mencegah proses pembusukan. Selain itu siwak juga turut merangsang produksi saliva (air liur) lebih. Di mana saliva merupakan organik mulut yang melindungi dan membersihkan mulut.
(مــرضاة للـرب) mardlātul lir-rabbi. Artinya, kesukaan bagi Allah azza wa jalla.
Seorang muslim mukmin yang bersiwak menjadikan Allah swt mencintainya. Menjadikan Allah swt meridlainya. Memang kelihatannya bersiwak itu ringan. Tetapi, apabila berbicara untuk mengistiqamahi dan mendawamkan bersiwak. Sungguh sangat berat.
Mulai saat ini Anda harus memiliki mindSET bersiwak. Sehingga hidup Anda sehari-hari tidak terlepas dari praktek bersiwak. Dalam rangka mengikuti jejak sunnah Rasulullah saw. Niat Anda bersiwak. Niatkan mengikuti sunnah Rasulullah saw.

Pembelajaran Sifat (Character Learning)
Dalam Thubbun Nabawi yang disusun oleh Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziah r.hu. Dijelaskan manfaat siwak antara lain :
- Membersihkan mulu.
- Membersihkan gusi.
- Mencegah pendarahan.
- Menguatkan penglihatan.
- Mencegah gigi berlubang.
- Menyehatkan pencernaan.
- Menjernihkan suara.
- Membantu pencernaan makanan.
- Memperlancar saluran nafas.
- Menggiatkan bacaan.
- Menahan tidur.
- Meridlakan Allah swt.
- Dikagumi malaikat.
Riset tentang khasiatnya siwak juga pernah dilakukan di Pakistan. Ketika itu dibuat studi banding antara masyarakat kota yang menggunakan pasta gigi komersial dan masyarakat desa yang menggunakan siwak. Hasilnya, penyakit gigi ternyata lebih banyak terjadi pada orang kota yang menggunakan pasta gigi komersial.
Sebuah majalah di Jerman memuat tulisan ilmuwan yang bernama Rudat, direktur Institut Perkumanan Universitas Rostock. Dalam tulisannya itu ia berkata, "Setelah saya membaca tentang siwak yang biasa digunakan bangsa Arab sebagai sikat gigi. Sejak saat itu saya mulai melakukan pengkajian. Penelitian ilmiah modern mengukuhkan, bahwa siwak mengandung zat yang melawan pembusukan, zat pembersih yang membantu membunuh kuman, memutihkan gigi, melindungi gigi dari kerapuhan, bekerja membantu merekatkan luka gusi dan pertumbuhannya secara sehat, dan melindungi mulut serta gigi dari berbagai penyakit. Sebagaimana telah terbukti bahwa siwak memiliki manfaat mencegah kanker."

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Miliki kebanggaan mengikuti sunnah Rasulullah saw dalam hidup sehari-hari.
2. Bersiwaklah secara istiqamah dan mudawwamah.
3. Kenalkanlah siwak kepada generasi muda muslim, mulai usia sedini mungkin.
4. Jangan tergantung kepada pasta gigi konvensional.
5. Bawalah siwak ke mana Anda pergi.

Oase Pencerahan
Janganlah Anda berpaham neo-muktazilah. Selalu merasionalkan yang ada dan terjadi di lingkungan hidup Anda. Alfaqir sering menjumpai banyak kaum muslimin yang memiliki gaya berpikir neo-muktazilah. Contoh dalam menanggapi masalah siwak.
Mereka beranggapan, karena di jaman Nabi saw memang belum ada pasta gigi. Sungguh ini Cara Berpikir yang menyepelekan sunnah. Menyelepekan sunnah, sama artinya dengan menyepelekan Rasulullah saw. Lambat-laun jika terbiasa menyepelekan sunnah. Akan terjerembab ke dalam liang bid’ah yang menyesatkan.
Sunnah fi’liah yang berupa menggunakan batang siwak. Sebagai sarana membersihkan gigi dan rongga mulut. Secara klinis telah teruji. Karena di batang siwak terdapat beberapa zat yang sangat dibutuhkan oleh gigi dan rongga mulut.
Ingat, rongga mulut, seperti semak belukar dan hutan belantara. Banyak kuman yang bersarang di dalam mulut manusia. Ada dua bakteri di dalam rongga mulut. Bakteri patogen (yang bermanfaat), dan bakteri apatogen (yang tidak bermanfaat) buat gigi dan mulut.
Jika tidak ada bakteri patogen dalam mulut. Bau mulut seseorang bisa menjadi sangat busuk. Termasuk air liur, tidak dapat berfungsi menyetabilkan asam dan basa yang masuk ke dalam merut bersama-sama makanan atau minuman.
Gigi dan rongga mulut harus bersih. Juga, harus selalu harum. Batang siwak dapat membantu terciptanya kebersihan rongga mulut, kesehatan gigi, dan bau mulut yang tidak sedap.
Ber-sunnah fi’liah dengan menggunakan siwak, Anda pasti mendapatkan banyak hikmah dari sisi Allah swt; insya Allah 

J 


Pembelajaran Sifat (Character Learning)
Dalam kitab Ath-Thubbun Nabawi (Medis Nabawi) yang disusun oleh Ibnul Qoyyim al-Jauziah dijelaskan manfaat siwak antara lain :
- membersihkan mulut,
- membersihkan gusi,
- mencegah pendarahan
- menguatkan penglihatan
- mencegah gigi berlubang
- menyehatkan pencernaan
- menjernihkan suara
- membantu pencernaan makanan
- memperlancar saluran nafas
- menggiatkan bacaan
- menahan tidur
- meridlakan Allah Ta’ala
- dikagumi malaikat
Riset tentang khasiatnya siwak juga pernah dilakukan di Pakistan. Ketika itu dibuat studi banding antara masyarakat kota yang menggunakan pasta gigi komersial dan masyarakat desa yang menggunakan siwak. Hasilnya, penyakit gigi ternyata lebih banyak terjadi pada orang kota yang menggunakan pasta gigi komersial.
Sebuah majalah Jerman memuat tulisan ilmuwan yang bernama Rudat, direktur Institut Perkumanan Universitas Rostock. Dalam tulisannya itu ia berkata, "Setelah saya membaca tentang siwak yang biasa digunakan Bangsa Arab sebagai sikat gigi, sejak saat itu pula saya mulai melakukan pengkajian. Penelitian ilmiah modern mengukuhkan, bahwa siwak mengandung zat yang melawan pembusukan, zat pembersih yang membantu membunuh kuman, memutihkan gigi, melindungi gigi dari kerapuhan, bekerja membantu merekatkan luka gusi dan pertumbuhannya secara sehat, dan melindungi mulut serta gigi dari berbagai penyakit. Sebagaimana telah terbukti bahwa siwak memiliki manfaat mencegah kanker."

quantumBELIEVING Dengan Musibah

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي صَعْصَعَةَ أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ يَسَارٍ أَبَا الْحُبَابِ يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ J:
﴿ مَنْ يُـرِدْ اللهُ بِهِ خَـيْرًا يُـصِبْ مِـنْهُ ﴾
Dari sahabat Abu Hurairah r.hu, ia berkata, “Rasulullah saw telah bersabda,

“Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka diberikan cobaan kepadanya”(Hr.Bukhari dan Ahmad).

Kedudukan Hadis
Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Malik r.hu dalam al-Muwwatha’-nya, bab Mā Jā fī Ajril Marīdli, Juz V, hal.488, hadis nomor 1477. Imam Bukhari r.hu dalam Shahih-nya, bab Mā Jā fī Kafāratil Marīdli, Juz XVII, hal.377, hadis nomor 5213.
Adapun Imam Ahmad r.hu meriwayatkan dalam Musnad-nya, bab Musnad Abi Hurairah, Juz XIV, hal.478, hadis nomor 6937. Imam Ibnu dalam Shahih-nya, bab Mā Jā fī Shabri wa Tsawwāb, Juz XII, hal.303, hadis nomor 2969.
Sedangkan, Imam Baihaqi r.hu meriwayatkan dalam Kitab-nya, bab Fī Mā Yaqūlul Ātis fīl Jawwābi, Juz XX, hal.259, hadis nomor 9442.
Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnad-nya, hadis nomor 16231, Juz XXXIV, halaman 194.

Kunci Kalimat (Miftāhul Kalām)
﴿ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ ﴾
“Siapa saja yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka diberikan cobaan kepadanya”

Banyak cara Allah azza wa jalla menghendaki hamba-Nya supaya menjadi baik. Di antaranya, dengan memberi hamba-Nya musibah. Inilah yang jarang dipahami oleh umat manusia. Kebanyakan manusia selalu berpikir. Jika seseorang mendapatkan musibah; pasti jelek. Kebanyakan manusia memahami musibah dengan sesuatu yang negatif.
Apabila Anda mau menjadi seorang “paranoid terbalik”. Apa pun yang menimpa Anda, dengan positive thinking, Anda selalu menerima dengan baik. Musibah itu berubah menjadi kesempatan (peluang) yang berkah. Cara Berpikir seseorang yang selalu menganggap positif segenap apa yang dialami tersebut. Sungguh merupakan modal utama untuk menjadi seorang hamba yang sukses di dunia dan di akhirat.
Apalagi datangnya “sesuatu” itu dari sisi Allah swt. Pasti ada hikmah dibalik kejadian. Apa pun itu. Tidakkah Allah swt telah berfirman dalam sebuah hadis qudsi. Seperti disabdakan Rasulullah saw, “Allah itu tergantung prasangka [dhan] hamba-Nya?”
Mengapa mayoritas umat manusia mengedepankan su’udhan terhadap kejadian-kejadian yang menimpanya. Utamanya, jika kejadian itu bersifat negatif. Yang diri manusia tidak menyukainya.
Padahal akibat Cara Berpikir su’udhan (negative thingking) itu yang menjadikan seorang manusia terkungkung dengan pemikirannya.
Seorang muslim mukmin harus memiliki Cara Berpikir yang berbeda. Maksudnya, seorang muslim mukmin harus mengedepankan husnudhan (positive thinking). Apabila menghadapi dan menerima “sesuatu” di kehidupan sehari-hari. Tidak perlu khawatir. Tidak perlu takut. Tidak perlu cemas. Ingat ketiga hal itu, sangat cepat mendorong munculnya hormon kortisol dalam tubuh. Jika hormon kortisol telah keluar dari sarangnya. Sangat berbahaya buat tubuh seorang manusia. Orang sehat saja bisa sakit. Apalagi seseorang yang di dalam tubuhnya telah bersarang penyakit. Pasti penyakitnya menjadi lebih parah.
Musibah yang diberikan Allah swt kepada para hamba-Nya, berbeda-beda. Itu hak teleologis Allah azza wa jalla. Prinsipnya, setiap musibah bagi seorang manusia. Harus menjadikan si manusia itu lebih Tahu Diri dan memiliki Pengendalian Diri yang kuat. Sehingga seorang manusia yang menerima musibah, justru semakin mendekatkan diri (taqarrub) dengan Allah swt. Dengan datangnya musibah, seorang yang Tahu Diri dan memiliki Pengendalian Diri. Dia semakin kuat di dalam melakukan Kontrol Diri (muhasabah ‘alan-nafs). Tidak ada yang disalahkan dengan terjadinya musibah yang diterimanya.
Seseorang yang telah memiliki Pencerahan Ruhani seperti tersebut di atas. Dengan datangnya musibah, dia malah menganggap mendapatkan kesempatan untuk menjadikan diri lebih baik lagi. Dia berpikir, musibah yang diterima, menjadikan dirinya terlecut untuk menjadi yang terbaik. Bahwa, Allah swt sangat mencintai dan memperhatikan dirinya. Karenanya, dia segera melakukan Perubahan Perilaku (Behavior Transformation).
Dia berkeyakinan, “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”(Qs.al-Baqarah [2]: 286).
Datangnya musibah bagi seorang mukmin menjadikan si mukmin semakin bagus triple i-nya (iman-islam-ihsan). Musibah yang diterima dipahami sebagai wujud Pembelajaran Sifat (Character Learning). Character Learning (c-lear) guna memotovasi terjadinya Akselerasi Sikap Mental (attitude acceleration) untuk menjadi seorang hamba, yang lebih: Imani, Takwallah, dan Taqarruban ila-llāh. Sehingga hidupnya semakin: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB). Seorang mukmin ketika tertimpa musibah commitment and consistent (CC) dengan sabda Rasulullah saw,

“Orang mukmin, baik laki-laki maupun perempuan senantiasa mendapatkan cobaan baik dirinya, anaknya, maupun hartanya. Sehingga ia menghadap Allah tanpa membawa dosa” (Hr.Tirmidzi).

Pemahaman Hadis
(مـن) man. Artinya, barangsiapa.
Setiap orang. Siapa pun dia. Yang di dalam hatinya telah tumbuh bibit-bibit menghendaki menjadi orang baik. Atau, secara mutlak, karena kehendak Allah swt. Menjadikan hamba-Nya menjadi baik. Alfaqir berkecenderungan, seseorang yang sangat berkehendak untuk menjadi baiklah yang sangat cepat menjadi baik. Sebab, menjadi orang baik telah menjadi pilihan hidup. Hukum kebaikan mengatakan, “Setiap manusia yang menghendaki baik, niscaya menjadi baik. Tinggal menunggu waktu.” Sebagaimana dijamin dengan firman-Nya,

“Dan, orang-orang yang berjihad untuk [mencari keridlaan] Kami. Benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan, sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (Qs.al-Angkabût [29]: 69).

(خــــيرا) khairan. Artinya, bagus atau baik.
Maksudnya, baik yang benar-benar baik (bagus). Tidak seolah kelihatan baik. Seperti pembawaan kaum munafikin. Luarnya baik. Tapi hatinya fasik kepada Allah swt.
Baik yang dikehendaki makna hadis di atas –wa-llāhu a’lam-- untuk ukuran: imannya, islamnya, ihsannya, kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Kesemuanya secara konstanta menggunakan parameter neraca syariat (al-qur`an, al-hadis, dan ilmud diniah).
(يـــصب) yushib. Artinya, musibah.
Musibah sendiri berasal dari akar kata ashāba (أصــاب) atau shāba (صــاب). Yakni, menimpa atau tertimpa.
Seseorang itu tertimpa “sesuatu”. “Sesuatu” yang menjadikan orang yang tertimpa benar-benar merasakannya. Seperti disabdakan Nabi saw,

“Yang terhebat tertimpa cobaan adalah para nabi. Dan, begitulah yang terutama dari yang utama. Seseorang diberikan cobaan berdasarkan kualitas agama yang dimilikinya. Semakin kuat agamanya, semakin besar pula ujiannya. Dan, bila agamanya lemah, akan di uji sesuai kadar agamanya. Dan, cobaan itu tidak akan meninggalkan hamba melainkan dalam keadaan bersih dari dosa” (Hr. Bukhari, Ahmad, dan Tirmidzi).

Misalnya, seseorang yang ditinggal wafat orang yang dicintai. Yang ditinggal wafat, dikatakan sebagai orang yang tertimpa musibah. Dia merasakan ada “sesuatu” dengan datangnya musibah itu.
Musibah sakit. Seseorang diberitahu oleh dokter telah kena penyakit diabet. Ini musibah. Justru dengan sakit itu. Pola hidupnya harus ditata lebih disiplin lagi. Karena penyakit diabet diakibatkan gaya hidup dan pola pikir yang salah.
Dua contoh di atas, apabila seseorang yang tertimpa musibah seperti itu. Hendaknya, segera berpikir bahwa musibah yang menimpanya. Semata kasih-sayang Allah swt yang menghendaki dirinya untuk menjadi orang baik. Bahkan, teologi Islam mengajarkan, “Musibah yang menimpa seorang muslim mukmin menjadi kafarah bagi dirinya.” Seperti diapresiasi oleh Nabi saw dengan sabdanya,

“Sangat menakjubkan bagi seorang mukmin. Sesunguhnya segala urusannya sangat baik baginya. Dan, tidak akan terjadi bagi seseorang, kecuali pada orang-orang yang beriman, apabila ia mendapatkan kebaikan ia bersyukur dan apabila ia mendaptkan ujian dia bersabar. Yang demikian itu sangat baik baginya” (Hr.Muslim).

Pembelajaran Sifat (Character Learning)
Silahkan Anda melakukan c-lear terhadap kisah Nabi Ayub as. Musibah sakit yang diderita. Justru menjadikan beliau, semakin meningkat: iman, takwa, dan taqarrub-nya. Sekalipun ujian demi ujian datang menghampiri dalam hidupnya. Tetap, beliau “Meng-Allah-kan Allah”.
Hingga ditetapkan oleh Allah azza wa jalla, beliau menjadi nabi dan utusan-Nya. Tidak semua manusia dipilih Allah swt menjadi nabi dan utusan-Nya. Nabi Ayub as telah ditetapkan dengan pilihan-Nya, untuk menjadi nabiullah dan rasulullah. Sebuah derajat keimanan, ketakwaan, dan ketaqarruban yang luar biasa hebat. Dari musibah sakit, menjadikan Nabi Ayub as mendapatkan pelatihan khusus, guna menempa Mental Tauhid dan Mental Sosial.
Berbeda dengan Nabi Ayub as. Adalah, Nabi Ibrahim as. Beliau di-c-lear-kan Allah swt dengan turunnya perintah kurban. Yang dikurbankan justru putera satu-satunya. Ini benar-benar musibah. Tetapi, Nabi Ibrahim as menggunakan pola pikir “paranoid terbalik”. Allah swt tidak mungkin mengadzab hamba yang tidak bersalah. Dengan tetap “Meng-Allah-kan Allah”. Nabi Ibrahim as menjalankan perintah kurban tersebut. Yang terjadi, sungguh luar biasa. Yang disembelih bukan lagi puteranya. Tetapi, seekor domba surga pilihan Allah azza wa jalla. Dengan musibah tersebut, Nabi Ibrahim as terangkat derajat dan martabat beliau di sisi Allah swt. Ditetapkan sebagai nabiullah dan rasulullah.
Para nabiullah dan rasulullah selalu mendapatkan musibah dari sisi-Nya. Musibah menjadi batu ujian, guna meningkatkan derajat: keimanan, ketakwaan, dan ketaqarruban kepada Allah swt. Semakin tinggi ilmu agama yang dikuasai dan dipahami. Semakin berat pula ujian yang pasti diterimanya. Hanya dengan ujian. Derajat iman, takwa, dan taqarrub seorang hamba menjadi terukur.
Seorang hamba yang tidak pernah mendapatkan musibah. Hidupnya pasti berada pada level yang biasa-biasa saja. Level-level nabiullah, rasulullah, waliullah, ashfiya`ullah, shalihin, syuhada`, dan alimul ulama; pasti mereka menerima ujian secara periodik guna meningkatkan level Kecerdasan Tauhid dan level Kecerdasan Sosial mereka.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Miliki mindSET qana’ah, sabar, dan syukur dalam hidup sehari-hari.
2. Husnudlan selalu kepada Allah swt.
3. Tanamkan dalam alam bawah sadar (albasa), dengan pertolongan Allah pasti dapat menerima musibah.
4. Yakini setiap musibah yang diterima, menjadikan peluang menjadi seorang hamba yang berderajat baik.
5. Biasakan berperilaku “paranoid terbalik”.
6. Pahami datangnya musibah, datangnya kesempatan untuk menjadi lebih bagus.

Oase Pencerahan
Berbagai ujian yang diberikan oleh Allah azza wa jalla kepada Anda. Jadikan sebagai Motivator Kecerdasan untuk selalu mendekatkan diri kepada-Nya. Tinggalkan pikiran putus asa, perasaan cemas, rasa takut, dan rasa khawatir. Semua itu datangnya dari setan.
Yakinlah, bahwa Anda akan mampu melewati ujian-ujian tersebut selama Anda bertawakkal 100% kepada Allah azza wa jalla. Maka, setiap ujian dan cobaan akan mendatangkan hikmah yang agung.
Dengan berbagai cobaan yang menimpa Anda. Akan tumbuh kecerdasan dan kesadaran Anda, setelah mungkin dalam waktu yang lama kecerdasan dan kesadaran tersebut terpendam dalam kelalaian.
Contoh, ketika sehat kebanyakan orang lalai terhadap perintah-perintah Allah azza wa jalla. Datangnya musibah berupa sakit. Menjadi ujian buatnya. Kembali ke jalan-Nya. Atau, malah jauh dari-Nya. Ke-iman-anlah yang sangat berperan menjadikan seseorang yang diuji itu kembali ke jalan-Nya, atau semakin menjauhi-Nya.
Mulai sekarang asahlah Kecerdasan Tauhid dan Kecerdasan Sosial Anda. Sehingga dalam waktu dekat Anda memiliki sikap Mental Tauhid dan sikap Mental Sosial yang serasi. Hidup sukses, hidup serasi. Tanpa keserasian, tidak ada sukses yang sebenarnya.
Dinul Islam memberikan motivasi, sekaligus memfasilitasi umat Islam untuk merasakan menjadi hamba yang sukses sejati. Latihannya, terima musibah, jalani ujian. Dengan tetap husnudhan kepada Allah swt. Sehingga Anda dapat mengamalkan perbuatan indah berupa: qana’ah, syukur, sabar, dan tawakkal. Dari sinilah Anda akan mengalami quantumBELIEVING (lompatan keyakinan).
Dengan kata lain, musibah merupakan salah satu wahana meng-quamtumBELIEVING-kan Kecerdasan Tauhid dan Kecerdasan Sosial Anda. Selamat berlatih!

Tanda Kebaikan Seorang Hamba

حَدَّثَنَا أبو عبد الله الحافظ، أبو العباس محمد بن يعقوب، الربيع بن سليمان، عبد الله بن وهب، أنا سليمان بن بلال ، عن موسى بن عبيدة، عن محمد بن كعب القرظي، عن أنس بن ملك  قال, قَالَ رَسُولُ اللهِ J:
﴿ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَـبْدٍ خَـيْراً، فَـقَّهَهُ فِى الدِّيْنَ، وَزَهَّـدَهُ فِى الدُّنْيَا، وَبَصَّـرَهُ عُـيُوبَه ﴾
Dari sahabat Anas bin Malik r.hu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda,

“Jika, Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba. Maka, Dia membuatnya memahami dinul Islam, membuatnya zuhud terhadap dunia, dan Dia memperlihatkan untuknya aib-aibnya sendiri” (Hr.Baihaqi, dari sahabat Anas r.hu).

Kedudukan Hadis
Hadis di atas, diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik r.hu. Terdapat dalam Sunan Baihaqi, hadis nomor 10140, Juz XXI, halaman 461. Juga, dalam al-Mushannif-nya Ibnu Abi Syaibah, hadis nomor 20, Juz VIII, halaman 230; dan hadis nomor 4-5, Juz VII, halaman 326.
Mengomentari hadis di atas, al-Mundziri r.hu berpendapat, “La ba`tsa bihi; tidak apa-apa.” Adapun al-Haitsami r.hu berkomentar, “Semua rijal tsiqah.”
Hampir semua kitab matan hadis memuat teks hadis di atas, meski dengan berbagai redaksi. Demikian yang terdapat dalam al-Maktabatusy Syamilah. Sedangkan dalam kitab-kitab syarah, hanya Kitab Faidlul Qadir yang memuat teks redaksi seperti di atas. Yakni, pada Juz I, halaman 529, hadis nomor 377, bab al-‘Amalu bil-Khawatim.
Dalam riwayat lain, di kitab yang sama pada hadis nomor 386 ada sedikit tambahan di akhir teks, yang berbunyi, “wal-hamahu rusydah”.
Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnad-nya, hadis nomor 16231, Juz XXXIV, halaman 194.

Kunci Kalimat (Miftāhul Kalām)
﴿ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَـبْدٍ خَـيْراً ﴾
“Jika, Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba”

Allah azza wa jalla menghendaki kebaikan. Karena seorang hamba berniat untuk menjadi baik. Artinya, kebaikan bagi hamba tersebut benar-benar menjadi azzam-nya. Kebaikan telah menjadi pilihan hidup baginya. Hingga Allah swt menetapkan kebaikan atas dirinya. Akhirnya, si hamba itu ditakdirkan menjadi baik oleh Allah swt.
Inilah sebuah kehendak Allah azza wa jalla yang menetapkan kebaikan atas seorang hamba. Apabila Allah swt telah menetapkan seorang hamba itu baik. Allah swt memberikan tanda pada diri hamba tersebut. Yakni, si hamba tersebut menjadi: 1).Paham dinul Islam; 2).Berperilaku zuhud; dan 3).Mampu menghisab diri sendiri.
Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkah dengan triple i (iman-islam-ihsan). Keagamaan ke-Islam-an kita menjadi: Paham dinul Islam; Berperilaku zuhud; dan Mau menghisab diri sendiri.
Seorang muslim atau muslimah yang paham dinul Islam, berperilaku zuhud, dan mau terus mengoreksi diri. Insya Allah, tidak akan menjadi seorang muslim-muslimah yang suka “marah-marah”, membenci sesama saudara muslim, dan menyakiti hati saudara sesama mukmin.
Sebaliknya, seorang muslim-muslimah yang paham dengan dinul Islam, berperilaku zuhud, dan terus mau mengoreksi diri. Dia akan menjadi sosok manusia yang memiliki kualitas: Hidup Bersih; Hidup Benar; dan Hidup Tidak Menyakiti Orang Lain, insya Allah.

Pemahaman Hadis
(فقهه فى الدينُ) faqqahahu fid-dīn. Artinya, maka Dia membuatnya memahami dinul Islam.
Orang yang disebut tafaqquh fid-dīn (paham dinul Islam). Bukanlah orang yang sekadar pandai dengan agama Islam. Seorang yang tafaqquh fid-dīn berarti ia benar-benar memiliki kualitas ke-Islam-an dan ke-Iman-an, yang telah mengejawantah ke dalam Perubahan Perilaku (Behavior Transformation) di kehidupan sehari-hari; mulai bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan dalam tidur pun tetap CC (commitment and consistent) dengan nilai-nilai ajaran Islam.
Seseorang yang paham dinul Islam, dia akan terus: Belajar; Diajar; dan Mengajar (BDM). Dia benar-benar akan memberdayakan ketiga potensi handal dalam dirinya: Akal Sehat; Alam Bawah Sadar (albasa); dan Akal Budi. Sehingga triple i yang dalam praktek pengamalan didampingi Neraca Syariat. Akan mampu melahirkan kualitas hidup seorang muslim yang: Sehat; Sejahtera; dan Bahagia (SSB). Inilah yang sering alfaqir katakan sebagai pemahaman Islam yang: Luas; Luwes; dan Mendalam (LLM).
(زهده فى الدنيا) zahdahu fid-dunya. Artinya, dirinya zuhud terhadap dunia.
Apabila seorang hamba tersebut ditakdirkan dapat berperilaku zuhud terhadap dunia. Maksudnya, hamba itu dianugerahi rizeki yang berupa sikap mental menjaga jarak dengan dunia. Niscaya hamba itu akan menjadi baik.
Maka, niat yang kuat untuk menjadi orang baik, haruslah disertai dengan sikap mental dan perilaku zuhud. Dengan harapan, Allah azza wa jalla menakdirkan dirinya sebagai orang yang baik.
Sebagai seorang muslim mukmin harus tetap yakin. Jikalau kebaikan itu menjadi pilihan hidup dan ketetapan hati. Niscaya Allah swt akan menetapkan pula menjadi seorang hamba yang baik di sisi-Nya; insya Allah. Sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya pada surat al-ankabūt ayat ke-69.
Mengapa sikap mental dan perilaku zuhud, sebagai salah satu tanda seorang muslim mukmin dikatakan baik? Sebab, seorang hamba yang zuhud, dia akan menjaga jarak dengan dunia. Dunia tidak lagi menjadi tujuan hidup. Dunia semata fasilitas untuk meningkatkan iman, meningkatkan takwa, dan meningkatkan ketaqarruban kepada Allah azza wa jalla. Dunia sekadar perladangan akhirat.
Di kehidupan seorang zahid, yang ada dan menjadi tujuan hidup, adalah mendapatkan ridla Allah swt. Amal-amal yang dilakukan nantinya diterima di sisi-Nya. Seorang zahid sangat berharap hidup di dunia dan di akhirat senantiasa mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Sehingga apa pun yang menjadikan diri terlena dari mengingat dan taat kepada Rabb-nya. Sekuat tenaga, dan selalu memohon pertolongan-Nya, terus dijauhi dan ditinggalkan.
Sehingga kehidupan keseharian hanya disandarkan dan digantungkan secara mutlak kepada Allah swt. Sebab, hanya Allah-lah yang memiliki segenap kepastian. Sedangkan, apa-apa yang ada dan dimilikinya semua adalah ketidakpastian.
(بصره عيوبه) bashsharahu ‘uyūbah. Artinya, terhadap dirinya selalu melihat aib-aibnya.
Orang baik adalah seorang hamba yang selalu melihat aib-aib diri sendiri. Sehingga memahami benar segala kekurangan dan kesalahan yang ada pada dirinya. Inilah rizeki yang agung dari Allah swt. Apabila telah dikaruniakan Kemauan dan Kemampuan (force of character and ability) untuk melihat segenap aibnya sendiri.
Setiap saat. Setiap detik. Setiap menit. Senantiasa melakukan penghitungan atas kesalahan, kealfa’an, dan keburukan diri sendiri (muhasabah ‘alan-nafs). Orang lain urusan dirinya sendiri.
Apabila seorang muslim mukmin dikehendaki baik, niscaya di keseharian hidup hanya berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki diri sendiri. Sehingga tidak ada waktu dan kesempatan sederit pun untuk berpikir mengenai keburukan, kesalahan, dan kekurangan orang lain.
Inilah akhlak yang dicintai Allah swt. Sesama muslim mukmin, bahkan sesama manusia anak turun Nabi Adam as tidak pernah saling: bertengkar, membunuh, berkhianat, menipu, dan menghina. Bagaimana mungkin hal itu dilakukan? Sedang mengurusi segenap keburukan, kesalahan, dan kekurangan dirinya saja menyita waktu yang lama. Hadis di atas merupakan detailisasi dari firman-Nya,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain. Boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan, jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya. Boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik” (Qs.al-Hujurãt [49]: 11).

Pembelajaran Sifat (Character Learning)
Dikisahkan dalam riwayat yang benar, suatu saat sahabat Salman r.hu didatangi sahabat Sa`ad bin Abi Waqqash r.hu. Lalu, ia menangis.
Sahabat Sa`ad, kemudian berkata, "Apa yang membuatmu menangis? Kamu telah bertemu dengan para sahabatmu, dan akan mendatangi telaga Rasulullah. Dan, beliau pun ridha padamu saat akhir kehidupannya."
Sahabat Salman menjawab, "Saya menangis bukan karena takut mati atau tamak dunia. Tetapi karena janji yang telah Rasulullah ambil dari kita, dengan sabda beliau, "Hendaklah kalian mengambil di dunia seperti sekadar perbekalan seorang pengembara”. Dan, sekarang ini barang-barang di rumahku…."
Subhanallah sahabat Salman, telah memberikan c-lear (Character Learning) kepada kita. Hidup sederhana. Hidup zuhud. Biasa menghisab diri sendiri. Dan, benar-benar paham dinul Islam.
Rumahnya kosong dari segala perabotan. Hanya ada sebua ember yang digunakan untuk mencuci pakaian. Padahal dia pernah menjabat gubernur. Gajinya diberikan baitul mal. Dia menghidupi keluarga dengan menjual tikar di pasar. Dan, hasil penjualan tikar masih dibagi: 1/3 untuk membeli bahan mentah tikar; 1/3 digunakan menghidupi keluarga; dan 1/3 disedekahkan kepada fakir-miskin. And toh…begitu, sahabat Salman masih takut dengan masa depannya di akhirat. Kelak akan dihisab sebagai seorang hamba yang berlebih-lebihan.
Bagaimana dengan Anda?

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Lakukan terus-menerus jangan bosan. Jangan malas. Jangan pernah berhenti: Belajar; Diajar; dan Mengajar (BDM).
2. Segeralah ber-zuhud. Jaga jarak hidup dengan Anda dengan dunia. Tujuan hidup adalah mencari ridla Allah. Dan, berharap segenap amal nantinya diterima-Nya.
3. Hitung kesalahan, kejelekan, dan keburukan diri Anda sendiri. Sebaliknya, lihat orang lain dengan segala kebaikan dan kelebihannya.
4. Miliki mindSET untuk menjadi orang baik.

Oase Pencerahan
Tanda kebaikan seorang muslim, adalah jika dirinya dapat memiliki perilaku: tafaqquh fid-dīn; zuhud; dan muhasabah ‘alan-nafs. Ketiga perilaku ini akan menjadikan Allah azza wa jalla mencintai siapa pun yang memiliki. Seorang muslim mukmin wajib mempunyai ketiga perilaku tersebut. Semata untuk meningkatkan derajat keimanan di sisi Allah swt.
Bahkan, kehendak Allah azza wa jalla apabila Dia menghendaki seorang hamba menjadi baik pun, terukur dengan ketiga perilaku sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis di atas.
Betapa hebat lagi dahsyat kehidupan seorang muslim mukmin. Allah swt yang telah menciptakan dirinya, benar-benar memfasilitasi totalitas hidup seorang hambanya dengan ketiga perilaku agung tersebut.
Memang tidak mudah untuk dapat mengamalkan ketiga perilaku agung itu. Hanya dengan kesungguhan yang berat jadi ringan. Hanya dengan kesabaran yang sulit menjadi mudah. Padahal seorang muslim mukmin, adalah prototipe seorang hamba Allah yang berkarakter sungguh-sungguh dan sabar.
Itu artinya, yang dapat menjadi baik di sisi Allah azza wa jalla hanya seorang hamba yang beriman (mu`min) kepada Allah swt. Sedangkan, seseorang yang mengaku beriman (amana) kepada Allah, masih perlu proses panjang untuk menumpuh menjadi seorang hamba Allah yang al-mu`min. Apalagi yang baru pada tahapan mengaku ber-Islam (aslama).
Bagaimana dengan Anda? Termasuk seorang hamba yang al-mu`min, ataukah yang amana, ataukah mungkin malah aslama?!
Marilah memperbanyak koreksi diri. Jangan biasakan mengoreksi kesalahan, kekurangan, keburukan, dan kejelekan orang lain atau komunitas lain; apalagi sesama muslim mukmin. Mulai saat ini kebiasaan arogan itu segera tinggalkan!!!

Mengapa Berdebat?

عن أبي أمامة  قال, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ J:
﴿ مَنْ تَـرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُـبْطِلٌ بُـنِيَ لَهُ بَـيْتٌ فِي رَبَـضِ الْجَـنَّةِ، وَمَنْ تَرَكَهُ وَهُوَ مُحِـقٌ بُـنِيَ لَهُ فِي وَسَطِـهَا، وَمَنْ حَسَّـنَ خُلُـقَهُ بُـنِيَ لَهُ فِي أَعْلاَهَا ﴾
Dari sahabat Abi Umamah r.hu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda,

"Orang yang meninggalkan perdebatan karena dia salah, maka dibangunkan istana baginya di pinggiran surga. Orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia benar, maka dibangunkan istana baginya di tengah-tengah surga. Orang yang baik akhlaknya, maka dibangunkan istana baginya di atas surga" (Hr.Abu Dawud).

Kedudukan Hadis
Hadis ini adalah hadis yang berajat hasan. Jalur periwayatan dari sahabat Abu Umamah r.hu. Sedangkan para imam muhadis yang meriwayatkan, di antaranya: Imam Tirmidzi; Imam Abu Dawud; Imam Ibnu Majah; dan Imam Baihaqi.
Lafadz di atas adalah milik Imam Abu Dawud. Imam Tirmidzi menyebutnya sebagai hadis hasan.
Juga, terdapat dalam Kitab Shahih Targhib wa Tarhib, hadis nomor 132, Juz I, halaman 32. Sedangkan, dalam takhrij Kitab Ihya’ Ulumuddin, hadis nomor 1801, Juz IV, halaman 301.

Kunci Kalimat (Miftāhul Kalām)
﴿ مَنْ تَـرَكَ الْمِرَاءَ ﴾
“Orang yang meninggalkan perdebatan”

Sadar atau tidak umat Islam. Hampir sebagian besar masih “menyukai” perdebatan. Tidak tahu alasan mereka, mengapa mereka masih gemar berdebat. Lebih-lebih debat itu dilakukan sesama muslim mukmin. Soal-soal sepele selalu diperdebatan atar “kelompok” Islam. Masing-masing mereka bangga, jika praktek keberagamaan mereka berbeda dengan saudara muslim mukmin lain. Sungguh sebuah petaka, apabila kondisi tersebut dibiarkan berlarut-larut.
Sungguh tidak dapat diterima oleh akal budi seorang yang berilmu pengetahuan diniah. Bahwa, dengan debat kehidupan umat Islam akan menjadi lebih baik. Sungguh yang terjadi malah sebaliknya; insya Allah.
Akibat kegemaran sebagian besar umat Islam berdebat. Maka, umat Islam terkotak dalam bingkai-bingkai eksklusivisme yang terpinggirkan. Memang inilah yang didesain oleh para petinggi zionisme international --bedakan dengan kaum yahudi.
Tidak ada ceritanya. Berdebat melahirkan kebersamaan. Mana mungkin jika strat-nya berbeda akan dapat mencapai finish secara bersama-sama. Sungguh tidak dapat diterima oleh common sense publik. Bahwa, munculnya berbagai perdebatan dapat membawa kasih-sayang. Non sense.
Pedebatan adalah salah satu akhlak tercela. Ia dalam katagori pembicaraan sia-sia. Ketika seorang mukmin bersentuhan dengan perbuatan (atau perkataan) sia-sia. Ia harus segera menghindar. Sebab, perdebatan adalah salah satu perbuatan yang dapat menghancurkan seseorang ke dalam kebinasaan seperti umat-umat terdahulu. Dari sahabat Abu Hurairah r.hu, ia berkata, “Saya mendengar Nabi saw bersabda,

“Apa yang telah aku larang kamu mengerjakan, hentikanlah! Dan, apa yang aku perintahkan kamu mengerjakann, lakukanlah sebisa dayamu! Sesungguhnya umat yang sebelum kamu binasa karena mereka banyak tanya, dan banyak debat terhadap nabi-nabi mereka” (Hr.Muslim).

Seorang mukmin harus selalu waspada terhadap pembicaraan sia-sia lagi tidak berguna. Tidaklah tepat bagi seorang mukmin berbantah-bantahan dengan orang bodoh dan pendek akal, kecuali ada hal yang dapat diraih dalam rangka berdakwah. al-Qur`an menjelaskan sikap ideal itu,

“Dan, apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling darinya, dan mereka berkata, ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil’.” (al-Qashash [28]: 55).

Demikianlah sebua apresisasi besar dari Rasulullah saw dan Allah azza wa jalla, bagi seorang muslim mukmin yang mampu meninggalkan perilaku debat atau majelis perdebatan.

Pemahaman Hadis
(مـبطلُ) mubthilun. Artinya, bohong (كذاب).
Yang dimaksud, orang yang menutupi diri dengan cara ber-apologi. Harapannya orang lain mempercayai apa-apa yang diucapkan di dalam perdebatan. Dan, untuk memenangkan perdebatan, dia tidak segan-segan melakukan kebohongan (kedustaan). Apakah itu data, informasi, atau referensi.
Hati-hatilah dalam berbicara. Sehingga tidak menimbulkan perdebatan yang mengarah terjadinya kedustaan. Ini yang dikatakan sebagai pembicaraan yang salah (mubthilun).
Sungguh perbuatan yang baik, jika seseorang merasa bersalah dalam berdebat. Lalu, dia meninggalkan perdebatan tersebut, karena Allah swt. Dia diapresiasi dengan istana di pinggiran surga.
Pesan yang terkandung, tinggalkan debat sekecil apa pun.
(محـق) muhiqun. Artinya, betul, benar, dan tepat.
Yang dimaksud, orang yang didebat tidak membalas terhadap pendebat. Bisa saja dia membalas atau melampiaskan amarah kepada “mubthilun”. Tetapi dia memilih untuk berlapang dada, dengan cara memafkan kesalahan orang yang mendhaliminya.
Disebut di dalam sebuah hadis, sahabat Sahl bin Mu’adz r.hu meriwayatkan Rasulullah saw bersabda,

“Seseorang yang menahan amarah, padahal dia mampu untuk melampiaskan, niscaya Allah akan memanggilnya di tengah-tengah lautan manusia hingga Dia menyuruhnya untuk memilih bidadari yang disukai” (Hr.Abu Dawud).

Seorang muhiqun diapresiasi dengan istana di tengah-tengah surga oleh Allah azza wa jalla. Mengenai hal ini Allah swt menyatakan dalam firman-Nya,

“Dan, orang-orang yang sabar karena mencari keridlaan Rabb-nya. Mendirikan shalat. Menafkahkan sebagian rizeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan [yang baik]. [Yaitu] surga 'adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya, dan anak cucunya. Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu [sambil mengucapkan], “Salamun 'alaikum bimã shabartum". Maka, alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.” (Qs.ar-Ra’du [13]: 22-24).

(حـسن خـــلقـهُ) hassana khuluqahu. Artinya, dia berakhlak bagus.
Akhlak yang bagus, adalah budi pekerti yang disertai dengan tatakrama terpilih sesusai dengan Neraca Syariat. Akhlak tersebut dipilari oleh al-qur`an, al-hadis, dan ilmu pengetahuan diniah.
Dengan kata lain, akhlak bagus ialah akhlak Islam yang disertai dengan adabul Islam. Inilah akhlak yang dicintai Allah dan rasul-Nya. Juga, dicintai oleh semua orang beriman dan segenap makhluk Allah. Apabila ada seseorang yang membenci seorang yang berakhlak bagus. Bisa dipastikan orang tersebut tidak waras akal sehatnya. Tidak waras akal sehatnya disebabkan alam bawah sadar (albasa) dan akal budinya tidak pernah diberikan muatan afirmasi positif yang berupa: Belajar; Diajar; dan Mengajar (BDM).
Secara umum akhlak bagus itulah yang menjadi ending dari dakwah Islam. Dengan akhlak yang bagus, seseorang muslim mendapatkan cinta dari Allah azza wa jalla.
Apabila kita toleh kebelakang. Pengangkatan Rasulullah saw ke alam dunia sebagai nabi yang rasul. Karena untuk menyempurnakan akhlak umat manusia, yang saat itu benar-benar mengalami dekaden. Baik di masyarakat Jazirah Arabia, Romawi, India, Mesir, Persia, dan Abassinia. Mengenai hal itu diabadikan dalam hadis Nabi saw,

“Inna mā bu’itstu li utammima makārimal akhlāqi;” sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (Hr.Bukhari).

Tidak hanya itu. Rasulullah saw juga memberikan ukuran yang nyata mengenai kecerdasan seseorang itu, juga harus diukur dari akhlak bagusnya. Seperti dinyatakan beliau saw dalam sabdanya,

“al-Birru husnul khuluq;” kebaikan itu adalah akhlak yang baik (Hr.Bukhari).

Dan, dengan akhlak yang mulai, seorang muslim mukmin dapat masuk surga Allah swt. Seperti disabdakan beliau saw,

“Taqwa-llāh wa husnul khuluqi;” takwa kepada Allah dan akhlak yang baik (Hr.Tirmidzi, hadis shahīh).

Serta sabdanya,

“Akmalul mu`minīna īmānan ahsanu-hum akhlāqān;” orang mukmin yang paling sempurna imannya, adalah yang paling baik akhlaknya (Hr.Ahmad dan Abu Dawud).

Sungguh seorang hamba yang akhlaknya bagus, dia mendapatkan apresiasi dari Allah swt berupa istana yang terletak di atas surga.

Pembelajaran Sifat (Character Learning)

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman1 [Yaitu] orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya2 Dan, orang-orang yang menjauhkan diri dari [perbuatan dan perkataan] yang tiada berguna3” (Qs.al-Mu`minun [23]: 1-3).

Seorang mukmin hendaknya meninggalkan perdebatan. Sebab, perdebatan bagian dari perkataan yang sia-sia. Bahkan, dari perdebatan seringkali berujung dengan pertengkaran mulut. Inilah c-lear (Character Learning) yang dipesankan oleh ayat ini; wa-llāhu a’lam.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Jika salah dengan sesama haqqul adami, segeralah minta maaf. Lalu, diikuti dengan bertaubat di sisi Allah swt.
2. Tinggalkan debat, meski Anda pada posisi yang benar. Maafkan mereka yang telah mendlalimi diri Anda.
3. Berusaha sekuat tenaga untuk berlatih memaafkan orang lain. Utamanya yang telah mendlalimi Anda.
4. Miliki mindSET menjadi seorang hamba yang berakhlak bagus.

Oase Pencerahan
Apa pun bentuknya selagi itu namanya perdebatan. Tinggalkan, insya Allah itu akan menjadi keberkahan buat kehidupan kita. Kita juga harus berhati-hati dalam bertutur kata. Jangan sampai tutur kata yang kita lontarkan dapat menimbulkan perdebatan. Sebab, boleh jadi perdebatan dapat menjadikan keimanan seseorang goncang.
Mari kita terus menciptakan suasana yang aman, damai, harmonis, serasi, dan tidak adanya saling curiga. Sehingga dapat meminimalkan terjadinya perdebatan. Jika diam menjadi sebuah pilihan terbaik. Lakukanlah!
Sisi lain, kita harus terbiasa menerima segenap perbedaan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, bangsa, negara, dan agama. Dengan terus memupuk sikap mental dan perilaku positif thinking.
Jangan sekali-kali memposisikan siapa pun yang tidak cocok dengan pendapat atau pemikiran Anda. Lalu, dianggap sebagai lawan Anda yang harus dienyahkan. Tinggalkan sikap yang demikian!
Marilah berupaya sekuat tenaga, agar hormon kortisol yang terdapat diri Anda tidak keluar. Keluarnya hormon kortisol akan menjadikan munculnya berbagai macam penyakit dalam tubuh Anda. Cara efektif untuk menahan laju keluarnya hormon kortisol. Mulai saat ini tinggalkan: debat, marah-marah, dendam, sakit hati, dan tergoncangannya jiwa

Jika Allah Menghendaki Baik Bagi Hamba

حَدَّثَنَا أبو عبد الله الحافظ ، أبو العباس محمد بن يعقوب ، الربيع بن سليمان ، عبد الله بن وهب ، أنا سليمان بن بلال ، عن موسى بن عبيدة ، عن محمد بن كعب القرظي ،عن أنس بن ملك قال, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:

﴿ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْراً فَقَّهَهُ فِى الدِّيْنَ،وَزَهَّدَهُ فِى الدُّنْيَا، وَبَصَّرَهُ عُيُوبَه﴾
(Kitab Sunan al-Baihaqi)
Dari sahabat Anas bin Malik r.hu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda,

“Jika, Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba. Maka, Dia membuatnya memahami dinul Islam, membuatnya zuhud terhadap dunia, dan Dia memperlihatkan untuknya aib-aibnya sendiri” (Hr.Baihaqi, dari Anas ra).

Kedudukan Hadis
Hadis di atas, diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik r.hu. Terdapat dalam Sunan al-Baihaqi, Hadis nomor: 10140, Juz: XXI, hal: 461. Juga dalam Ibnu Abi Syaibah, Hadis nomor : 71, jus: VIII, hal: 262

Kunci Kalimat (Miftāhul Kalām)
﴿ إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْراً ﴾
“Jika, Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba”

Sabda Nabi saw tersebut di atas memberikan penegasan kepada kaum muslimin-mukmin, bahwa pribadi yang baik adalah sebuah kepribadian yang dikehendaki baik oleh swt baik. Realitas di atas haruslah benar-benar diimani oleh kaum muslimin, karena tanpa keimanan yang disertai dengan keyakinan yang utuh, maka pribadi tersebut akan pecah (dis-integreted of personality).
Inilah sebuah potret kepribadian seorang hamba yang mesti dijauhi oleh kaum mukminin. Sebaliknya, kaum mukminin harus benar-benar sejalan dengan kehendak-Nya, karena pada hakikatnya seorang hamba tidak akan pernah dapat mengatur dirinya sendiri, tanpa ada campur tangan-Nya Allah swt.
Teks hadis tersebut di atas juga menjelaskan, bahwa Allah swt akan berkehendak baik jika hamba-Nya memiliki tiga syarat pokok: Tafaqquh fid-diin; Zuhud; dan Muhasabah ‘alan-nafs.

Pemahaman Hadis

(فَقَّهَهُ فِى الدِّيْنَُ) Faqqahahu fidiin. Maka, Dia membuatnya memahami dinul Islam. Orang yang disebut dengan tafaquh fiddin bukanlah orang yang sekedar paham dengan Agama Islam. Tapi lebih dari itu ia telah mampu mengamalkan ajaran yang terkandung dalam Dinul Islam.
Oleh karenanya orang yang telah paham dengan dinul Islam ia akan memiliki sikap yang luas, lewes, lagi mendalam. Sebagaimana yang pernah dilakonkan oleh baginda Nabi saw,
Diriwayatkan dalam sirah nabawiah pernah terjadi peristiwa restorasi Ka’bah, hampir seluruh kabilah yang berada di wilayah kekuasaan suku Quraisy, beramai-ramai ikut terlibat di dalam proyek restorasi tersebut. Masing-masing kabilah mengambil bagian, mana yang mereka suka untuk dibangunnya secara sendiri-sendiri.
Dan, menjadi persoalan besar, hampir saja menjadikan pertikaian di antara kabilah yang terlibat proyek restorasi Ka’bah tersebut, ketika sampai pada tahapan merestorasi pojok Hajar Aswad. Pertikaian yang telah mengarah kepada terjadinya peperangan itu telah membuat masing-masing kabilah sangat tegang, kejadian itu hampir satu minggu lamanya.
Masing-masing dari kabilah merasa yang paling berhak untuk mengembalikan ‘batu hitam’ itu ke tempatnya semula. Karena dari masing-masing kabilah berebut benar, akhirnya yang terjadi adalah dari kabilah-kabilah yang ada kesemuanya merasa paling benar. Dan, hal itu tidak akan terjadi, bila kabilah-kabilah yang ada “berebut salah”, karena mereka menyadari tentunya bahwa semuanya dapat diatasi dengan jalan dialogis dan musyawarah untuk mufakat.
Akhirnya pertumpahan darah dapat dihindari dengan segera, setelah tokoh paling senior dari suku Quraisy, yang bernama Abu Umaiah bin Mughirah bin Abdillah bin Amr bin Makhzum; memimpin musyawarah di dalam Masjidil Haram. Kemudian disepakati, “Barangsiapa ada orang yang masuk pintu masjid duluan, itulah orang yang berhak mengembalikan si batu hitam.”
Ternyata tidak begitu lama dari acara kemufakatan dalam musyawarah itu, datanglah seorang pemuda, yang tak lain adalah Muhammad bin Abdullah. Di saat para tokoh Quraisy melihat kedatangannya, maka serta merta mereka berseru, “Inilah orang yang terpercaya (al-âmin). Kami ridla dengan Muhammad.”
Beberapa saat pemuda yang bernama Muhammad bin Abdullah menerima pengaduan duduk perkaranya yang sebenarnya terjadi. Setelah beliau memahami dengan seksama, lalu beliau berkata, “Bawakan untukku sebuah kain.”
Setelah kain di dapat, maka lalu pemuda yang bernama Muhammad bin Abdullah tersebut mengangkat si batu hitam itu ke atas kain yang telah beliau hamparkan di tanah. Kemudian beliau memberikan aba-aba seraya berkata, “Hendaknya setiap kabilah memegang setiap ujung dari kain ini, dan mengangkatnya bersama-sama.”
Dengan patuh para tokoh yang mewakili kabilahnya masing-masing tersebut beramai-ramai mengangkat si batu hitam untuk didekatkan dengan tempatnya. Baru setelah benar-benar dekat Muhammad bin Abdullah mengangkat batu hitam itu dengan kedua tangannya, guna meletakkan Hajar Aswad tersebut di tempatnya, yakni “pojok Aswad” (ruknul aswad). Begitulah, akhirnya Ka’bah benar-benar selesai direstorasi 18 tahun sebelum hijrah Nabi saw ke Madinah.

(وَزَهَّدَهُ فِى الدُّنْيَا) Wa zuhdahu fid-dunya membuatnya zuhud terhadap dunia. Selanjutnya orang yang dikehendaki baik oleh Allah swt, maka ia akan bersikap zuhud terhadap dunia. Sebab ia sadar terhadap eksistensi dunia. ”Dan Tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (Qs.al- An'am: 32)
Oleh karenanya kita harus waspada dan jangan terlalu silau dengan gemerlapnya dunia, sebab fitnah dunia akan membawa kita kedalam jurang Jahanam. Ketakutan fitnah dunia ini juga dirasakan para sahabat. Salah satu dari mereka adalah Salman al Farisi. Suatu ketika Salman dikunjungi Sa`ad bin Abi Waqash lalu ia menangis. Sa`ad pun berkata "Apa yang membuatmu menangis ?" Engkau telah bertemu dengan para sahabatmu, dan akan mendatangi telaga Rasulullah dan beliaupun ridha padamu saat akhir kehidupannya." Salman menjawab, "Aku menangis bukan karena takut mati atau tamak dunia. Tetapi karena janji yang telah Rasulullah ambil dari kita dengan sabda beliau," Hendaklah kalian mengambil didunia seperti sekedar perbekalan seorang pengembara. "Dan sekarang ini barang-barang dirumahku…."
Subhanallah Salman, Ya Salman , padahal tiadalah barang dirumahmu kecuali ember tempat mencuci pakaian yang tak seberapa harganya. Tetapi engkau begitu takut bila telah jatuh dalam hidup berlebihan. Lalu bagaimana dengan kami ini ?
Zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan kita lebih yakin dan meyakini dengan apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tangan kita. Sejalan dengan hadis Nabi saw,
Rasulullah SAW bersabda, "Melakukan zuhud dalam kehidupan di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula memboroskan kekayaan. Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti daripada apa yang ada pada Allah." (HR. Ahmad, Mauqufan)
Orang yang demikian inilah yang dicintai Allah swt, ditegaskan dalam hadis yang lain,
“Berzuhudlah terhadap duniawi, niscaya Allah mencintaimu, dan berzuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia lain, niscaya orang akan mencintaimu.” (Hr. al-Hakim).

(وَبَصَّرَهُ عُيُوبَه) Wabasharuhu ‘uyubah, memperlihatkan untuknya aib-aibnya sendiri. Orang yang dijadikan baik oleh Allah selanjutnya ialah orang yang selalu Muhasabah ‘Alan Nafs dikeseharian hidupnya. Ia selalu mencari-cari dan menghitung kejelekannya sendiri dan melihat orang lain dengan kacamata kebaikan.
Akhlak yang demikian inilah yang dicintai Allah swt. Ia tidak mudah menyalahkan dan mengkafirkan orang lain, tetapi sebaliknya ia terus menerus introspeksi diri jangan-jangan ia termasuk orang yang hina dihadapan Allah swt. Demikianlah makna dari firman-Nya,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (Qs. Al-Hujurat: 11)
Demikanlah potret kepribadian orang-orang beriman yang telah tercerahkan dikeseharian hidupnya. Dikarenakan mereka telah memahami firman Allah tersebut di atas. Sebab belum tentu amal kebaikan yang selama ini dikerjakan diterima Allah. Tatapi sebaliknya amal yang kita sangka diterima Allah ternyata ditolak oleh-Nya. Dan akhirnya kita termasuk orang yang bangkrut dihadapan Allah swt. Naudzhubillah.

Pembelajaran Sifat (Character Learning)
Character Learning (c-lear) dari setiap hadis Nabi saw yang kita baca. Sudah barangtentu yang didasari dengan rasa iman dan kuatnya keyakinan. Akan menumbuhkan kekuatan yang hebat dalam alam bawah sadar (albasa) kita. Dan, dari albasa itulah nantinya menjadi modal utama di dalam membangun karakter seorang muslim-mukmin.
Kita semua, insya Allah, akan mempunyai Kecerdasan Rasa (Intuitional Quotient) sampai dengan tingkat yang sempurna al-InsanulKamil. Apabila kita dengan sungguh-sungguh melaksanakan perintah serta menjauhi larangan Allah dan rasul-Nya. Kita akan menjadi hamba yang dicintai-Nya. Itulah arti dari ketakwaan yang menyebabkan kita menjadi orang yang paling mulia dan tercerahkan di sisi Allah swt.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
Guna mendapatkan Behavior Transformation (betra) di keseharian hidup kita, setelah melakukan c-lear dengan tema hadis di atas. Kita harus CC 100% dengan hadis nabi di atas agar kita dicintai Allah swt. Kita harus,
• Kita harus banyak belajar, mengajar, dan mau diajar. Agar memperoleh pemahaman agama yang luwas, luwes lagi mendalam.
• Berzuhudlah terhadap dunia dan waspadalah dengan tipudayanya, niscaya dicintai Allah swt .
• Lihatlah kejelekan diri-sendiri dan lihatlah kebaikan orang lain.

Oase Pencerahan
Setelah melakukan Pembelajaran Sifat dari tema hadis di atas. Segeralah melakukan Perubahan Perilaku. Sebab, bagaimana pun, hadis tersebut harus menjadi motivator kecerdasan umat Islam di dalam berbuat dan bersikap.
Sekaranglah saatnya. Kaum muslimin mukmin memandu kehidupan pribadinya dengan Neraca Syariat. Utamanya, dalam CC (commitment and consistent) dengan: al-qur`an; as-sunnah; dan al-’ilmud-diniah.
Maka langkah yang harus kita ambil ialah kita harus segera memiliki ketiga sikap mental tersebut yaitu; Tafaqquh fid-diin; Zuhud; dan Muhasabah ‘alan-nafs. Sebab dengan ketiga sikap tersebut kita bisa menjadi muslimin-mukmin yang berkepribadian “Radhiatan mardhiyah--ridha kepada segenap ketetapan Allah swt dan Allah pun meridhainya.” Amiin