Jumat, 17 September 2010

Dzikir & Doa Yang Paling Utama

عَنْ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ  قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ J يَقُولُ

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ للهِ
Dari sahabat Jabir bin Abdullah r.hu, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda,

“Dzikir yang paling utama adalah mengucapkan, “Tidak ada sesembahan yang berhak disembah [dengan benar], kecuali hanya Allah”. Dan, doa yang terbaik adalah ucapan, “Segala puji bagi Allah”.”

Kedudukan Hadis
Hadis hasan. Terdapat di Sunan Tirmidzi, bab Da’watul Muslim Mustajabah, nomor hadis 3305, Juz XI, hal.239. Sunan Ibnu Majah, bab Fadhlul Hamidin, nomor hadis.3790, Jux XI, hal.245. Sunan Nasa’i, bab Doa, nomor hadis 10667, Juz VI, hal.208. Shahih al-Hakim, bab Takbir wa Du’a, nomor hadis 1788, Juz IV, hal.381. Shahih Ibnu Hibban, bab Adzkar, nomor hadis 874, Juz IV, hal.184.
Juga, Shahih Targhib wa Tarhib, Juz II, hal.103. Shahih wa Dla’if Sunan Tirmidzi, nomor hadis 3383, Juz VII, hal.383. Shahih wa Dla’if Sunan Ibnu Majah, nomor hadis 3800, Juz VIII, hal.300. Shahih wa Dla’if Jam’us Shaghir, nomor hadis 1984, Juz V, hal.431.

Kelembutan Kalimat (Luthfiyul Kalām)

﴿ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ﴾

“Tidak ada sesembahan yang berhak disembah [dengan benar], kecuali hanya Allah”

Inilah kalimat yang hebat dan berkekuatan dahsyat. Seorang mukmin muslim harus selalu mengukirkan dan menghiaskan dalam alam bawah sadar (albasa)-nya. Sehingga akal sehat dan akal budinya senantiasa tercerahkan dan tercahai dengan kalimat tauhid tersebut.
Dasar pengucapan kalimat lā ilāha illa-llāh. Dengan menyandarkan kepada kekuatan triple i. Yaitu, iman-islam-ihsan. Artinya, di samping triple i menjadi dasar dari pengucapan lā ilāha illa-llāh. Tujuan pengucapan kalimat lā ilāha illa-llāh, agar triple i menjadi lebih berkekuatan. Sehingga membuahkan kehidupan yang semakin: sehat-sejahtera-bahagia (SSB).
Silahkan perhatikan, dan jika perlu lakukan penelitian mengenai gejala kejiwaan bagi orang yang tidak pernah mengucapkan kalimat lā ilāha illa-llāh. Pasti hidupnya tidak SSB. Bahkan, secara fisik kalimat lā ilāha illa-llāh mampu menjadi terapi yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Asal dalam pelafadzannya benar dan tepat. Apalagi ditambah triple i yang benar, niscaya melahirkan banyak kekuatan pada diri seorang yang mengucapkan, insya Allah.
Rugilah Anda jika dalam hidup ini tidak commitment and consistent (CC) dengan lafadz lā ilāha illa-llāh.

Kelembutan Kalimat (Luthfiyul Kalām)

﴿ اَلْحَمْدُ للهِ ﴾

“Segala puji bagi Allah”

Memuji kepada Allah azza wa jalla pertanda, bahwa seseorang itu ridla dengan eksistensi-Nya. Betapa beratnya melakukan puji-pijian kepada-Nya. Apabila tidak didasarkan kepada Segitiga Kekuatan (Triangle Force). Yaitu, memuji Allah swt dengan mendasarkan kepada sikap mental dan perilaku: Menomor-satukan Allah; Jujur; dan Ikhlas.
Keterkaitan antara lafadz lā ilāha illa-llāh dengan lafadz alhamdu-lilāh. Sebagai wujud pendidikan ruhaniah kepada segenap kaum yang beriman. Sehingga kaum yang beriman memiliki Kecerdasan Rasa (Intuitional Quotient). Puncak dari rasa cinta kepada Allah swt, adalah senantiasa memuji hanya kepada Allah swt. Sementara, lafadz lā ilāha illa-llāh merupakan mediator yang paling hebat, guna melahirkan rasa cinta seorang hamba kepada al-Khaliq.
Baik dzikir dengan mengucapkan lafadz lā ilāha illa-llāh. Atau, berdoa dengan mengucapkan alhamdu-lilāh. Keduanya adalah pengejawantahan dari keimanan dan amal shalih seorang mukmin muslim. Karenanya, dua hal di atas, antara dzikrullah dan tahmid, jangan sampai dilalaikan dalam kehidupan seorang mukmin muslim. Sebagaimana diabadikan-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih. Mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka, karena keimanannya. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan9 Do'a mereka di dalamnya ialah, "Subhānaka-llāhumma". Dan, salam penghormatan mereka ialah, "Salām". Dan, penutup doa mereka adalah, "Alhamdu-lilāhi rabbil 'ālamīn".” (Qs.Yūnus []: 9-10).


Pemahaman Hadis
afdlaludz-dzikri. Artinya, dzikir yang paling utama kepada Allah azza wa jalla, yang seyogyanya dilakukan seorang hamba kepada Rabb. Ini merupakan bentuk arahan, sekaligus keterangan, bahwa dinul Islam mengajarkan kepada para pemeluknya, ada dzikir yang utama dan ada dzikir yang biasa-biasa saja. Karena sifat utamanya itulah, sehingga membedakan dengan dzikir-dzikir yang lain; wa-llāhu a’lam.
lā ilāha illa-llāh. Artinya, tidak ada sesembahan yang hak disembah, kecuali secara mutlak hanya Allah azza wa jalla. Inilah yang dimaksud Nabi saw dalam hadis di atas, sebagai dzirullah yang utama. Inilah puncak dan muara dari semua bentuk dzikrullah. Yakni, semua mengristal dengan mewujudkan kehidupan di bawah kalimat tauhid lā ilāha illa-llāh. Dan, tidak ada pernyataan yang paling asasi bagi seorang hamba melainkan dalam hidupnya CC dengan kalimat tauhid.
afdlalud-du’ā`. Artinya, doa yang paling utama dalam kehidupan seorang muslim mukmin. Banyak doa dalam kehidupan seorang muslim mukmin. Karenanya, Rasulullah saw mengajarkan kepada segenap kaum muslimin mukmin untuk mengamalkan doa yang utama. Banyak doa yang dipakai oleh kaum muslimin muaranya adalah memuji kepada Allah swt. Doa yang tidak ada aspek memuji Allah swt menjadi doa yang cacat; wa-llāhu a’lam.
alhamdu-lilāh. Artinya, segala puji bagi Allah. Di dunia ini tidak ada yang layak dan berhak menerima pujian, selain Allah azza wa jalla. Apabila hendak memuji makhluk, haruslah disandarkan kepada Allah swt yang telah menciptakan makhluk tersebut. Inilah doa yang utama untuk diamalkan oleh segenap muslimin mukmin. Betapa sangat ringkas, lagi padat isi dan kandungannya.

Pembelajaran Sifat (Character Learning)
Ketahuilah, kalimat tauhid ini sangat bermanfaat bagi kita selama masih hidup di dunia. Karena jika ajal kita sudah sampai di kerongkongan, maka tidak ada gunanya lagi kalimat yang mulia tersebut. Sebagaimana telah terjadi pada fir’aun pada saat akan tenggelam di Laut Merah, yang diabadikan al-qur’an, surat Yunus ayat 90-91;

Dan, Kami memungkinkan bani isra`il melintasi laut. Lalu, mereka diikuti oleh fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas [mereka]. Hingga bila fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia, "Saya percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh bani isra`il, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri [kepada Allah]90" Apakah sekarang [baru kamu percaya], padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan91” (Qs.Yūnus [10]: 90-91).

Teladan kita, Rasulullah saw, yang selalu mendirikan shalat di tengah malam dengan waktu yang lama. Tidaklah mungkin tanpa ketauhidan yang sempurna dan rasa syukur yang mendalam beliau sanggup bersusah-payah bangun tengah malam dan berdiri hingga kaki pecah-pecah.
Seperti juga kehidupan keseharian al-maghfurllāh Syaikhul ‘Allamah Syahid ar-Rimbani r.hu (seorang ulama asal Rembang, Jawa Tengah). Dalam setiap perkataannya, Syaikh selalu menyertainya dengan mengucapkan alhamdu-lilāh. Baik dalam keadaan duka yang mendalam maupun dalam keadaan senang mendapatkan nikmat dari Allah. Sebuah bukti ketauhidan yang benar-benar kuat telah menancap dalam diri Syaikh.
Ucapan hamdalah memang cukup ringan bagi kita ketika menerima berbagai kenikmatan. Akan tetapi sulit dan berat diucapkan ketika justru yang kita terima adalah kenyataan pahit yang semula tidak kita inginkan. Hal itu membuktikan bahwa ketauhidan kita masih lemah.

Perubahan Perilaku (Behavior Transformation)
1. Anda harus CC dalam mengucapkan lā ilāha illa-llāh.
2. CC dengan doa alhamdu-lilāh.
3. Tanamkan dalam hati dan alam bawah sadar Anda, kalimat tauhid dan kalimat tahmid tersebut.
4. Jaga diri Anda jangan sampai bosan atau jemu berdzikir dan bertahmid.
5. Teruslah mencari ilmu pengetahuan diniah yang menjadikan tauhid Anda semakin meningkat. Di samping rasa syukur Anda terus mengalir dalam keseharian hidup Anda.

Oase Pencerahan
Telah nampak di depan mata kita, orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, tetapi justru dia mengabaikan nikmat itu. Memang Allah swt sendiri telah berfirman melalui kitab suci al-qur’an, bahwa sedikit sekali manusia yang bisa bersyukur. Jika disimpulkan, sedikit pula orang yang mempunyai tauhid yang kuat.
Contohnya, para pejabat dan anggota DPR dengan gaji dan berbagai macam fisilitas yang serba wah. Justru –mayoritas dari mereka-- tidak menjadikan diri mereka bersyukur kepada Allah. Yakni, yang ditandai dengan semakin meningkatkan produktifitas kerja. Tetapi masih saja mereka mengambil bagian yang bukan haknya. Aneh mereka masih tamak dan rakus; na’udzu billāhi min dzālik.
Atau sebaliknya, rakyat miskin yang tertindas dengan berbagai macam kebijakan, lebih banyak mengeluh dan meminta belas kasihan sesama makhluk. Mereka tidak mau lagi berdoa kepada Allah dan mau bergantung hanya kepada-Nya. Toh doa orang yang tertindas mustajabah.
Dan, yang perlu di garis bawahi adalah, tidak akan mampu mendapatkan derajat katauhidan yang bagus lagi benar, kecuali orang yang berilmu yang disertai iman. Sebagaimana dinyatakan-Nya, Allah swt dalam surat Ali Imran ayat 18,


“Allah menyatakan, bahwasanya tidak ada tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah], yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu [juga menyatakan yang demikian itu]. Tak ada tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah], yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Qs.Āli Imrān [3]: 18)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar